Lebaran is “OPOR Day”

29 hari Ramadan telah berlalu. Saatnya lebaran tiba. Kaum muslim yang tua, muda bahkan anak-anakpun saling berucap maaf lahir batin. Bahkan dalam budaya arab sendiri, nampak begitu akrab. Ketika eid fitri tiba, sesama mereka saling berpelukan dan berucap “eid mubarrak, taqabbalallahu minna waminkum”. “taqabbal yaa kareem” jawab satunya lagi.

Syawal kali ini, merupakan kali kedua saya menikmati suasana lebaran di negeri orang. Kali pertama waktu itu saat tahun 2008. Tahun pertama saya berada di luar negeri. Alhamdulillah suasana lebaran tahun inipun tidak berbeda jauh dengan suasana 3 tahun yang lalu. Hanya sedikit beda karena banyak warga Indonesia yang lagi mudik ke Indonesia.

Jauh dirantau bukan menjadi penghalang untuk menikmati suasana lebaran seperti di negeri sendiri. Selepas salat dan khutbah eid, jam 0800 pagi, warga IFF dukhan mengundang seluruh warganya dalam acara silaturahim dan halal bihalal. Bertempat di rumah Pak Ghozali dan Pak Yani, acara berlangsung meriah. Bapak-bapak, ibu-ibu dan anak-anak berkumpul dan menikmati suasana lebaran di rantau.

Menu lebaran yang tersaji terdapat banyak macam, ada menu khas yang nggak pernah ketinggalan disaat lebaran, OPOR AYAM. Tapi menu-menu lainnya nggak ketinggalan lho! Ada karedok, pecel, kering kentang campur jeroan dan masih banyak kue-kue yang menggoda selera!

Tapi itu hanya dengar cerita saja dari teman. Karena saya kebetulan sedang bertugas melaksanakan kewajiban sebagai seorang karyawan.

Nggak ngikut kumpul-kumpul bukan berarti gigit jari doang. Menu yang begitu banyak tersaji, akhirnya nggak habis juga. Inilah rejekinya para “bujangan lokal”. 2 nampan besar kupat iris, 1 nampan besar kering kentang campur jeroan dan 1 panci besar opor ayam, mampir ke apartemen para bujangan. Sepulang kerja pagi, sayapun tak melewatkan untuk menikmati menu opor ayam, kupat dan kering kentang yang sudah menunggu sejak siang tadi. Temen-temen bujangan lainnya juga kita panggil untuk segera menyantap menu yang sudah menanti lidah untuk segera bergoyang. Hmm yummmmy!

Boleh saya bilang, hari ini adalah OPOR DAY!

Kenapa jadi opor day? Saya masih ingat kemarin sore ba’da ashar, temen dari Bandung ngirim SMS  yang isinya, ada undangan berbuka puasa di rumah salah seorang teman seperjuangan semenjak masa STM dulu. Tanpa pikir panjang dan banyak pertimbangan saya pun menyanggupi untuk hadir dan menyantap hidangan berbuka nanti. Itung-itung juga berbagi pahala, karena sejatinya barang siapa berbagi makanan bagi orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahalanya orang puasa tadi tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Luar biasa janji Allah ini! Mau tahu menunya apa? Menunya ya opor ayam!

 

Malam hari selepas jam 10 malampun, ada lagi temen dari Demak mengirim opor ayam. Esok paginya saat silaturahim tadi, menunya juga ada opor ayamnya. Kemudian sebelum pulang kerja tadi, temen saya yang berdomisili di Magelang juga mbawain opor ayam. Dari sore, malam, pagi sampe siang, pokoke opor ayam is number one during eid for Indonesian community. Terima kasih semuanya yang telah memasak opor ayamnya. Uenake pool!

Ada yang berbeda saatnya malam hari tiba. Ada teman lagi dari Jepara yang mengundang ke rumahnya untuk sekedar kumpul-kumpul silaturahmi dan makan ala kadarnya. Tapi saat ngundangpun temen saya ini sudah menawarkan menu khasnya. Mau tahu apa menunya? Opor ayam kali ya? Eehh ternyata bukan! Menunya kali ini sungguh berbeda, ini menu dari seberang pulau jawa, menu khas dari sang permaisurinya. Menunya adalah COTO MAKASSAR. Wahh istimewa sekali! Pasti mak nyuzzz!

Tak menyia-nyiakan kesempatan, ba’da maghrib saya pun segera meluncur ke rumah temen saya ini. Ternyata luar biasa! Hidangan lengkap COTO MAKASSAR pun sudah siap menanti lidah ini untuk segera berkecap-kecap keenakan. Sambil menunggu beberapa teman lainnya, akhirnya sampai ba’da isya kamipun mulai menikmati kuliner ala Sulawesi selatan ini yang ditemani klethikan kacang bawang besar-besar, coklat galaxy, buah semangka yang super segar, kue coklat yang menggoda dan minuman the hangat yang membangkitkan selera.

Tuan rumah pun dengan sigap menjelaskan tahap demi tahap bagaimana cara menyiapkan menu ini sebelum disantap. Taruh dagingnya dulu, kemudian irisan daun bawang, kemudian taruh sambal, tambahkan kuah coto-nya, tambahi sedikit kecap kemudian aduk rata. Habis itu cicip dulu, kalau kurang asin tambahkan garam secukupnya sesuai selera. Habis ini baru masukkan irisan kupat dan bawang goreng. Siap dech disantap!

Ada lagi pesan dari tuan rumah, kalau makan coto Makassar nggak cukup 1 mangkok. Pesannya minimal 3 mangkok ya. Pokoke menu sedikit2 tapi sering. Jadi ingat menunya orang sakit ya. Pokoke bisa kuenyang dengan coto Makassar ini. Tak lupa kamipun sempatkan berpose untuk dijepret oleh tuan rumah. Mau lihat hasil jepretannya? Ya ini nyangkut bersama cerita ini.

***C U to the next story_by Sugeng Bralink***

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged , , , . Bookmark the permalink.