Haji: Berlomba-Lomba Menodai Kota Makkah?!

Oleh Abdul Adzim [Santri S3 Bahasa Arab Universitas Maulana Malik Ibrahim – Malang] 

Hari-hari ini, banyak sekali hampir setiap calon jamaah haji mengelar syukuran haji. Tetangga dan kerabat di undang dengan tujuan agar supaya mendo’akan calon jamaah haji, yang sekaligus saling memaafkan (pamitan). Tidak terkecuali, setiap acara syukuran itu yang dibahas ialah yang baik-baik saja, seperti; Allah Swt mengabulkan do’a, mengampuni dosa-dosa, dan setiap rupiah yang dikeluarkan digantikan hingga berlipat ganda.

Apalagi, beberapa training haji yang terang-terangan menyerukan ibadah haji, dengan memotifasi mengajak agar segera berhaji tanpa memberikan panduan ibadah dengan baik, serta etika selama di kota suci Makkah dan Madinah. Wajar, jika kemudian banyak jamaah haji yang kardik (karepe dibik), tidak mengindahkan etika dan sopan santun terhadap kota suci Makkah dan Madinah selama melaksanakan ritual haji.

Justru, hampir sebagian besar orang terkagum-kagum dengan bangunan megah sekitar baitullah, dari pada berinterkasi dengan baitullah. Yang kaya-pun lebih tertarik dengan pernak-pernik haji, sehingga kadang mereka lebih betah di tempat belanja, dari pada berdesak-desakan melakukan ritual thowaf. Sepulang dari menunaikan haji, bukanya merasakan indahnya ber-interaksi dengan Allah Swt melalui celah-celah Baitullah. Tidak sedikit, yang menodahi kesucian itu dengan kata-kata kotor (jidal/ debat kusir), fusuk (dosa-dosa kecil), dan rofast (bercumbu rayu), bahkan lebih dari itupun juga banyak jumlahnya.

Jika dicermati dengan seksama, sebenarnya semua bentuk amal ibadah di Tanah Suci Makkah mendapat pahala yang berlipat ganda, begitu juga dengan orang yang melakukan kejelekan di Tanah Suci Makkah. Oleh karena itu, menunaikan ibadah haji tidak hanya melakukan perjalanan ritual saja, tetapi harus mempersiapkan hati, jiwa, serta ruhani dengan sebaik-baiknya, sehingga hajinya tidak sia-sia. Banyak sudah orang bercerita kepada tetangga bahwa dirinya telah haji berkali-kali, tetapi prilakunya tidak lebih dari orang-orang yang belum pernah mengenal etika. Bahkan, kadang masih suka korupsi, menipu, suka ingkar janji, bahkan para penyelengara haji yang sudah berkali-kali haji dan umrah, masih berprilaku tidak kepada tuhan, Nabi Saw, bahkan masih suka menyakiti teman dan rekannya sendiri.

Ilmu haji itu sangat penting, alangkah indahnya jika setiap jamaah haji itu secara khusus belajar ilmu haji, sebagaimana orang-orang terdahulu. Akan lebih penting lagi jika bekalnya benar-benar dari sumber yang halal. Sebab, dengan bekal yang halal, ilmu yang cukup, serta niat yang bening, sebagaimana beningnya embun. Maka setiap do’a yang dipanjatkan akan mengetarkan penduduk langit yang sedang sibuk bertasbih mensucikan Allah Swt. Do’a-doa jamaah haji yang berkalikali, dengan bekal yang tidak jelas, serta niatan kurang bersih, ditambah lagi dengan minimnya ilmu, bagaimana bisa mengetarkan penduduk langit, wong do’anya itu tidak pernah didengar oleh mereka…!

Sebagian para ulama sufi berpendapat dengan mengatakan bahwa orang yang melakukan kemak-siatan (berbuat curang, berdusta, mengambil orang-orang fakir miskin) di Makkah dosanya juga akan dilipatgandakan, sebagimana melakukan kebaikan, kecuali segera bertaubat kepada Allah Swt dan mengakui kesalahannya. QS. al-Hajj: 25 memberitakan tentang larangan berbuat maksiat ( batil)

“Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di dalamnya maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara dzalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.”

Mufti kerajaan Arab Saudi, Syeh Abdul Aziz bin Baz pernah mengatakan bahwa “Ilhad’ di dalam al-Qur’an itu bersifat umum. Artinya, setiap sesuatu yang cenderung negatif dan batil dikategorikan sebagai ilhad. Adakalanya berkaitan dengan aqidah, syariah, serta segala hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

Allah telah berfirman : jika seseorang melakukan kebatilan apapun”

Maka ia akan mendapatkan balasan dengan siksaan yang sangat pedih, sesuai dengan janji-Nya.”[1]

Ayat ini mengisyaratkan bahwa kemungkaran, kejahatan serta kedzoliman, pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan kadang lebih menyakitkan. Beberapa intelektual muslim berpendapat bahwa niat berbuat mungkar pun mendapatkan balasan-Nya, apalagi kemungkaran yang telah dilakukan? Nabi sangat membencinya. Tiga orang yang paling dibenci Nabi, salah satunya berbuat dzalim di tanah Haram.[2]

Berangkat dari teks di atas, salah satu sahabat Nabi yang bernama Ibnu Abbas berpendapat bahwa kejelekan dan kebaikan di Makkah dilipatgandakan. Tidak ada perbedaan antara kebaikan dan keburukan yang dilakukan di kota suci Makkah. Masing-masing mendapatkan balasan yang setimpal.

Kedzoliman yang terkait dengan jamaah haji sangat besar, seperti; transportasi jamaah haji, pengurusan visa, akomodasi, catering, pengurusan paspor dan medical. Seringkali urusan ini, menjadi lahan bagi sebagian orang utuk mengeruk kekayaan. Kadang, mereka-pun lebih fasih membaca al-Qur’an, dan lebih pandai ketika berceramah tentang haji, bahkan kalau berceramah kadang bisa membuat jamaah haji meneteskan air mata.

Masih membincangkan etika terhadap kota suci (al-Haramain), di masa hidupnya, Ibnu Abbas sangat memulyakan Makkah sebagai kota sacral. Beliau lebih memilih tinggal di tanah Halal, agar kesalahan yang dilakukan tidak dilipatgandakan. Sedangkan jika hendak beribadah, beliau masuk ke Makkah agar pahalanya dilipatgandakan sampai seratus ribu.Sementara, saat ini sudah tidak lagi ditemukan orang yang seperti Ibnu Abbas, bahkan ketika melakukan perbuatan jahat, secara terang-terangan di kota Makkah.

Apa yang dilakukan Ibnu Abbas merupakan antisipasi terhadap diri sendiri agar tidak berbuat kejelekan di Makkah, karena bisa menodainya. Selain itu juga karena rasa ta’zhim (hormat) beliau terhadap Baitullah. Bahkan beliau berwasiat jika telah wafat agar dimakamkan di luar kota suci Makkah. Ternyata wasiat beliau dilaksanakan dengan baik, ia dimakamkan di Tha’if.

Dalam cerita lain dikisahkan, ada seorang sahabat Rasulullah Saw. tinggal di tanah Halal (Arafah), namun mushallanya berada di Tanah Haram. Ini dilakukan untuk mempermudah melaksanakan ibadah di tanah suci. Jadi antara mushalla dan rumahnya sangat berdekatan. Namun rumah yang ditempati ada di Tanah Halal, sedangkan tempat sholatnya terletak di tanah Haram.

Apa yang dilakukan Ibnu Abbas dan sahabat Nabi di atas merupakan salah satu usaha antisipasi, penghormatan dan memuliakan tanah suci Makkah agar jangan sampai melakukan kesalahan atau kemaksiatan di tanah suci tersebut. Namun cara beribadah kedua sahabat tersebut merupakan langkah positif agar selalu mendapatkan pahala seratus ribu. Sedangkan kejelekan yang dilakukan tidak dilipatgandakan seperti kebaikan yang mereka lakukan.

Dalam kisah lain, ada seorang ulama’ besar yang tidak buang air kecil serta buang air besar di Tanah Haram selama kurang lebih empat puluh tahun demi menghormati tanah suci Makkah. Beliau tinggal di tanah suci Makkah. Akan tetapi untuk urusan buang air beliau memilih tempat lain di luar Tanah Haram.

Diriwayatkan bahwa Imam Abu Muhammad Ubaidillah bin Said as-Sanjani tinggal di Makkah kurang lebih setahun. Namun beliau tidak pernah buang hajat di Tanah Haram.[3] Apa yang dilakukan dua ulama besar tersebut juga merupakan bentuk pen-ta’zhim-an terhadap Tanah Suci Makkah. Begitu besar penghormatan ulama terhadap kota suci ini, yang tidak mungkin dibandingkan dengan kelakuan-kelakuan banyak biro haji, dan orang-orang yang menodahi tanah suci, bahkan menjadikan jamaah haji sebagai komoditas belaka.


[1] Al-Baladu al-Haram Fadhoil wa Ahkam hal 32, dikeluarkan oleh Kulliyah Dakwah Wa Usuluddin, Umm al-Qura University Makkah.

[2] Ibid, 33-34

[3] .Al Fasi, Sifaul garaam Bi Ahbari Baladi al-Haram 1/116-Darul Kitab al-Arabi- Beirut

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Haji dan Umrah. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s