The Joy f Sharing

by Syaifoel Hardy

Sepekan sebelum Ramadan berakhir, saya balik dari Tanah Air. Seperti halnya orang Indonesia lainnya yang bekerja dan tinggal di luar negeri, cuti di Indonesia selama hampir tiga pekan, padat dengan kegiatan. Bedanya, saya memandangnya dari sisi profesi.

Ada tujuh perguruan tinggi yang sempat mengundang saya untuk berbicara tentang berbagai hal sehubungan dengan usaha-usaha peningkatan kualitas profesi kita, nursing. Dua Poltekes, dua universitas dan tiga STIKES (Sekolah Tinggi Kesehatan) di mana di dalamnya terdapat Fakultas Ilmu Keperawatan.

Nurses adalah Reflective Practitioner. A ‘reflective practitioner’ is someone who, at regular intervals, looks back at the work they do, and the work process, and considers how they can improve (www.sharpy.dircon.co.uk). Bulan Suci Ramadan ini, merupakan kesempatan yang baik sekali bagi profesi kita untuk menengok kembali apa pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan sebagai profesional, bagaimana prosesnya, serta mempertimbangkan bagaimana kita bisa memperbaikinya. Hal ini penting mengingat tujuan kita kerja pada dasarnya adalah mencari kepuasan kerja (job satisfaction).

Kita bekerja tidak sebatas pada perolehan materi semata. Benar, bahwa perolehan materi yang seimbang sebagai bagian dari imbalan hasil kerja kita itu penting. Tetapi, besarnya materi yang kita peroleh tidak selalu berjalan seiring dengan kepuasan yang kita peroleh. Kekayaan yang kita peroleh dari hasil kerja dalam bidang materi bukanlah faktor utama yang membuat kita bahagia.

Kalau kita bekerja tujuannya hanya perolehan materi, maka betapa sebenarnya banyak anak-anak orang kaya yang pada akhirnya tidak perlu sekolah dan tidak pula kerja, lantaran mereka sudah memiliki harta yang banyak. Apakah mereka bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki? Ternyata kenyataan di lapangan amat jauh berbeda.

Banyak anak-anak pejabat kita yang kaya raya, terjerumus dalam berbagai jurang kenistaan, tindak kekerasan dan kriminalitas lainnya. Mereka gagal bukan hanya dalam bidang studi. Dalam sosial kemasyarakatpun jauh dari keharmonisan. Jika demikian, maka sudah sepatutnyalah kita menerapkan sejumlah strategi demi menghindari hal ini.

Kerja adalah bagian dari kehidupan yang senantiasa menyertai langkah kita, ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada. Sebagai contoh, banyak orang yang tidak bisa tidur lantaran beban kerjanya. Namun, tidak sedikit pula orang yang bisa tidur nyenyak, karena beban kerja yang sudah terselesaikan. Ini berarti, pengaruh kerja terhadap harmoni kehidupan patut diperhitungkan. Pekerjaan bukan masalah sepele yang begitu saja bisa dikesampingkan posisinya.

Sayangnya, seringkali di antara kita bingung dengan profesi nursing ini. Kita kurang menyadari apa sebenarnya peran dan fungsi profesi kita ini. Kita kerapkali tidak kuasa menjawab problematika ini. Sebagian kita bahkan tidak mampu membedakan antara profesi ini dengan profesi kesehatan lainnya. Akibatnya, terjadi konflik batin. Bimbang dengan apa yang sudah digelutinya bertahun-tahun.

Kita tahu, peran terbesar nurses adalah dalam bidang etik. Etika dalam nursing inilah yang mendudukkan perbedaan antara yang benar dan yang salah. Peletakkan kebenaran atau kesalahan sikap kita terhadap klien atau pasien ini bisa dilakukan dengan jalan refleksi. Oleh sebab itu, tidaklah heran jika nurses bisa dijuluki dengan Reflective Practitioner lantaran dalam kerjanya tidak luput dari upaya-upaya melihat diri sendiri. Menengok kembali apa yang sudah dikerjakan dan dilakukan terhadap pasien/kliennya.

Mengaplikasikan refleksi dalam kehidupan profesi ini, memang tidak gampang. Meski demikian, refleksi juga bukan sesuatu yang mustahil. Sebagaimana ketrampilan lainnya dalam bidang kesehatan, refleksi dalam pelaksanaannya perlu latihan. Refleksi menyangkut perasaan dan emosi.

Seperti halnya pisau, perasaan dan emosi yang tidak dilatih, tidak bakal tajam atau peka. Kita tidak mampu menyelami perasaan serta jiwa orang-orang di sekitar kita yang menderita. Kita tidak sanggup ber-empati. Kita tidak mampu memahami kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

Di Tanah Air kita, ratusan ribu generasi muda kita sedang belajar di bangku kuliah. Setiap tahunnya, sedikitnya 48.000 lulusan kita membutuhkan lapangan kerja baru. Pendidikan yang mereka tempuh berharga jutaan Rupiah setiap semesternya. Pendidikan abad ini tidak ada yang istilahnya murah.

Dari hasil pengamatan saya, nyaris tidak ada orang miskin yang bisa menyentuh apa itu arti pendidikan tinggi. Tidak terkecuali di sektor nursing ini. Kuliah di bangku nursing bukan lagi jaminan bahwa mereka akan mendapatkan pekerjaan nantinya. Keadaan ini masih akan diperpayah lagi apabila kompetensi lulusannya tidak mencapai standard yang diharapkan. Fenomena yang demikian ini adalah tanggungjawab kita bersama.
Kita tidak bisa hanya cukup menyalahkan kebijakan Pemerintah dalam penanganan masalah lapangan kerja bagi nurses. Kita pula tidak patut menuding ketidak-becusan lembaga pendidikan dalam pengelolaan proses belajar mengajar.

Sebaliknya, di tengah begitu kompleksnya permasalahan dunia nursing di Indonesia, sudah selayaknya semua kendala ini tidak membuat kita menutup jendela mata hati kita, yang sudah bekerja dan berkembang ini, untuk berbuat sesuatu. Dengan kondisi kita di luar negeri saat ini yang mapan dan menyenangkan, betapa masa depan mereka perlu kita selamatkan. Inilah hakekat refleksi.

Tidak kurang dari 600 lembaga pendidikan nursing tersebar di seluruh Indonesia. Penyebaran institusi yang tidak merata ditambah lagi dengan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah, khususnya tenaga pengajarnya, membuat posisi lulusan kita sangat dilematik. Di satu pihak, negeri ini amat membutuhkan tenaga kesehatan yang handal dalam jumlah yang memadai. Namun di sisi lain, tujuan tersebut sulit diraih karena sejumlah kendala yang sulit dihindari.

Nah, peranan Indonesian nurses yang bekerja dan tinggal di luar negeri ini mestinya bisa dimanfaatkan dengan baik. Barangkali upaya melangkah ke sana selama ini belum terpikirkan secara optimal. Akan tetapi, nurses kita yang berada di luar negeri bukan tidak mungkin bersikap proaktif dalam hal ini. Mendekati lembaga pendidikan tertentu dan mengadakan kerjasama sebagai contoh. Banyak hal yang bisa dilakukan guna mendongkrak kualitas kompetensi mahasiswa yang sedang belajar ini dengan mengundang atau melibatkan nurses kita yang di luar negeri.

Beberapa langkah konkrit yang bisa ditempuh di antaranya adalah, kita bisa saja memberikan kuliah tamu materi-materi pembelajaran yang bersifat internasional. Misalnya Transcultural nursing, nursing ethics, trends & perspective of nursing, health promotion, occupational health, serta sejumlah training yang berkaitan dengan kondisi emergency, penyakit menahun, dan lain-lain.

Nurses kita di luar negeri banyak yang mendapatkan training yang kelasnya internasional yang tidak dialami oleh sebagian besar dosen-dosen lembaga pendidikan kita. Kekayaan potensi kita, tidak ternilai harganya bagi masa depan mahasiswa!

Ketika saya bertemu dengan Direktur STIKES Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sehari sebelum saya balik ke Qatar, beberapa tahun lalu, saya sempat menghimbau kepada beliau untuk memanfaatkan kami, Indonesian nurses di luar negeri, semaksimal mungkin. Jika perlu, jangan hanya sebatas sebagai dosen tamu saja, namun dilibatkan dalam proses belajar mengajar secara rutin. Beliau menyambut baik ide tersebut. Dan Alhamdulillah akan segera terealisasi di semester mendatang bagi program S1 Keperawatan di UMM.

Maka dari itu, saya pribadi mengajak semua rekan-rekan sejawat, khususnya yang bekerja di luar negeri, dalam persoalan menularkan ilmu atau halusnya ‘mengajar’, tidak perlu sebenarnya harus memiliki bakat. Semua nurses hakekatnya adalah educator, setidaknya bagi pasien atau kliennya. Potensi ini harus dikembangkan. Lahan bagi pengembangan potensi kita dalam hal yang satu ini terbentang luas saat ini.

Lewat momen Syawal kali ini, saya mengajak kita semua untuk berefleksi. Bahwa puluhan ribu generasi muda kita menanti uluran tangan serta pikiran kita. Mereka tidak membutuhkan bantuan dana dari kita, karena rata-rata mereka dari keluarga mampu. Yang mereka butuhkan adalah realisasi keprihatinan kita terhadap kualitas hasil pendidikan mereka sebagai anggota profesi. Implementasinya akan terwujud jika kita mau meluangkan waktu untuk berefleksi.

Sekali lagi, mari kita jadikan Syawal kali ini sebagai momen berefleksi. Dengan berefleksi kita berharap menjadi orang-orang pemurah, yang rela membagi waktu, tenaga dan pikiran (ilmu) bagi orang lain. Luangkan sebagian waktu anda jika balik/cuti ke Tanah Air untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan para mahasiswa atau rekan sejawat.

Ada banyak yang bisa kita lakukan dari pada hanya sekedar ngobrol. Mulai dari membantu memperkaya Bahasa Inggris profesi, bercerita tentang uniknya pengalaman kerja di luar negeri, hingga memberikan mata kuliah tertentu. Kalau INNA-K bisa bekerjasama dengan Universitas Pajajaran (UNPAD) untuk peningkatan kualitas nurses di Kuwait, INNA-Q (Qatar) dengan UNIMUS Semarang, bukan tidak mungkin, kerjasama untuk pendidikan setingkat S2 bisa direalisasikan nanti. Berikan sesuatu kepada mahasiswa di se-antero Nusantara! Tujuannya tentu saja bukan uang.

Amalan seperti itu, begitu tinggi dan mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Bila saja kita mau mengamalkannya, niscaya akan bisa kita hindari kemiskinan kompetensi nursing profesional di negeri ini. Sayidina Ali bin Abu Thalib R.A, keponakan Rasulullah SAW, pernah berucap, sekiranya kemiskinan itu berwujud dalam bentuk manusia, niscaya akan beliau tebas lehernya!

Kita tahu, ladang amal tidak terbatas hanya di ruang lingkup majelis taklim, di belakang pintu-pintu masjid, atau di dalam kotak-kotak amal.

Lewat refleksi profesi, kita bisa berbuat banyak kebajikan. Dengan refleksi, kita berbagi ilmu dan pengalaman. Dengan berbagi ilmu dan pengalaman, bukan hanya nama baik dan pahala semata yang kita akan peroleh. Kompetensi akan bertambah, wawasan meningkat, hubungan sosial semakin luas, kesempatan kerja di masa depan terbuka lebar, serta tentu saja, kepuasan kerja jadi semakin lengkap!

Ringkasnya, dengan refleksi, kita bisa tebas urat nadi leher kemiskinan kompetensi nursing bagi generasi mendatang di Bumi Pertiwi ini.

Doha, 22 September 2011 (Revised)

Shardy2@hotmail.com

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s