Dibalik Cerita Tiket

Oleh Al Aula

Setelah selesai mengurus berbagai keperluan Timnas dan juga fans di Qatar, rasanya wajar di saat pertandingan  saya merencanakan untuk duduk di kursi empuk VVIP bersama beberapa rekan diplomat asing di Qatar, ataupun gabung dengan fans timnas lainnya di belakang gawang. Ingin menikmati pertandingan, sebagaiman fans bola lainnya.

Setelah berbagai pertimbangan, termasuk karena masih harus memfasilitasi rekan wartawan foto Indonesia untuk mendapat akreditasi, akhirnya saya putuskan duduk di VVIP agar lebih mudah mengakses pintu keluar. Tepat pukul 16.29, telepon seorang rekan masuk “Loket tiket sudah ditutup, padahal baru buka 10 menit, dan masih ada ratusan mungkin ribuan penonton antre!” Lho, kok begitu. Padahal pengertian yang terbangun saat persiapan hingga technical meeting yang melibatkan berbagai pihak adalah, saat hari pertandingan ada paling tidak 1000 tiket yang akan dijual ke fans Indonesia, sehingga total 2000 pendukung akan dibolehkan masuk. Sedangkan sisanya bebas membeli di sektor manapun termasuk VIP, dengan syarat kondisi keamanan memungkinkan. Angka 2000 menjadi jumlah ‘suporter resmi’ yang sudah melebihi ketentuan FIFA 8%, sekitar 1000 tiket dari kapasitas 13000 tempat duduk.

Saya langsung meninggalkan kursi empuk VVIP itu. Menuju kantor kepala pengelola stadion, menanyakan apa yang terjadi. Wajah dia sangat tegang, beberapa orang sudah ada di ruangan dia. Tanpa banya mendengar saya, dia bilang “Tunggu, 30 menit saya kabari Anda lagi”. 30 menit kemudian, dia menghubungi saya “Ok, loket dan pintu akan dibuka lagi”. Di saat yang sama, pendukung Indonesia berduyun-duyun berlari menuju loket penjualan tiket VIP, yang gak lebih dari sekedar sebuah meja dengan seorang penjual layaknya menjual tiket pasar malam. Kondisi chaos di depan loket ini membuat panitia balik badan, loket keseluruhan ditutup lagi. Gate 4 yang sudah dijanjikan dibuka, ditutup lagi untuk sementara.

Saat itu saya sudah bersama dua jurnalis Indonesia yang sudah mendapat akreditasi. Karena saya sudah berada di luar area stadion, saya bersama dua rekan jurnalis malah kesulitan mencari jalan masuk karena tiba-tiba semua pintu terkunci.

Saat yang sama timnas Indonesia sudah datang, akhirnya saya menelpon LO Timnas, Abu Khalifa, orang local yang sangat-sangat luar biasa membantu sejak kedatangan timnas. bersama Abu Ghanim  Dia bilang, “I told you, you must have accreditation card with all area acces”. Sejak awal saya memang menolak untuk membuat itu, karena tanggung jawab saya tidak sampai di stadion, cukup pengorganisasian tiket saja, dan selanjutnya semua adalah tanggung jawab panitia penyelenggara. Lebih dari itu, saya mau menikmati pertandingan, that is it! Akhirnya saat itu juga Abu Khalifa membuatkan accreditation card, 5 menit, dan saya bisa masuk ke seluruh sudut stadion, termasuk nyasar ke ruang ganti pemain Qatar, dan akhirnya mendadak jadi wartawan foto J

Telp saya yang diset getar dan loud speaker tidak terdengar dan terasakan oleh saya, di situasi kacau itu ada 46 miscall yang tidak saya ketahui dari berbagai pihak, dan satu dari Kapten, Komandan Polisi yang bertanggung jawab pada keamanan pertandingan. Orangnya tinggi besar, Qatari asli, dan luar biasa sangat lembut dalam berkomunikasi dengan saya. Saya bilang “They all have to get in to the stadium, I assure you that they will behave, instead of outside stadium!”. Dia sepakat, sambil tersenyum dia memberikan jaminan, akan membuka gate 4 dan 5. Dia bilang, seluruh sektor di belakang gawang, sampai berbatasan dengan pendukung Qatar akan dia buka. Seorang rekan dari QFA yang sangat khawatir dengan keamanan, dan berada di ztengah lapangan bersama saya mengirim sms yang saya rasa penuh kecemasan “Hope everything all right there?” Saya balas “No worries, they are inside ok, but I am bit worried with those outside L) Setelah itu saya mendatangi tribun belakang gawang, memberi tahu pentolan suporter agar menyampaikan kepada rekan-rekan di luar bahwa gate 4 dan 5 akan segera dibuka. Beberapa rekan warga yang melihat saya wira-wiri berinisiatif menelpon saya menawarkan bantuan, saya sangat terharu, senang, dan menambah kepercayaan diri untuk terus bernegosiasi, untuk terus bisa menambah jumlah pendukung timnas yang dapat masuk stadion.

Beberapa saat saya melihat penonton mulai masuk, saya mulai tenang, karena kekhawatiran saya sejujurnya bukan masalah keamanan, tapi harapan agar jangan sampai mimpi fans mendukung timnas, yang kesempatannya sangat jarang mereka dapatkan untuk menonton dari dekat, harus gagal sia-sia.

Pengelola stadion menelpon saya lagi, dia bilang, dalam perhitungan panitia, sudah lebih dari 2500 fans Indonesia masuk stadion, baik di tribun belakang gawang, maupun VIP. Saya bilang “Thank you, I am grateful, but there are still more outside, and the seats on the other side of the goalie is still empty”. Dia bilang, “I will try, we are exploring every option”. Saya tau mereka terus bekerja untuk memfasilitasi fans timnas, termasuk kordinasi dengan Palang Merah jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pertandingan mulai berlangsung, tapi sesaat sebelum itu, saya melihat Pelatih Qatar, Sebastiao Lazaroni sempat berbincang dengan seorang panitia, termasuk dengan match commissioner, yang sejak technical meeting sehari sebelumnya juga mengerti posisi saya, namun selalu mengingatkan adanya FIFA rules 8% tersebut. (PS: Match Comissioner sempat menyampaikan concern kepada saya saat latihan resmi/tertutup timnas sehari sebelumnya di Al Sadd. Fans Timnas menerobos masuk untuk menonton. Pelatih Wim ditanya oleh Match Comissioner tentang masuknya penonton ini, dia bilang ok, no problem. Namun saat selesai, penonton yang sudah dijanjikan untuk foto bareng pemain timnas menerobos hingga menunggu sampai di lorong luar kamar ganti pakaian, ini pelanggaran sangat serius. Karena manajer timnas sudah menyampaikan secara langsung kepada fans tersebut untuk silakan berfoto di luar saat pemain mau naik ke bus. Setelah kejadian itu saya bilang ke Match Comissioner bahwa pelanggaran tersebut tidak akan terjadi lagi)

Pertengahan babak pertama, penonton sudah hampir penuh di belakang gawang. Perkiraan pengelola dan aparat keamanan adalah sekitar 3000-3500 fans timnas sudah di stadion, belum termasuk yang di VIP, sementara ‘fans’ Qatar yang berada di tribun tengah sudah hampir penuh juga. Dengan demikian, 300% lebih dari total alokasi telah diberikan oleh QFA, panitia pertadingan, aparat keamanan, dan palang merah.

Saya masih tidak berhenti merayu agar sisi belakang gawang lainnya yang masih kosong bisa diisi. Seorang petinggi QFA yang berada bersama Presiden QFA di VVIP menelpon saya saat memasuki babak kedua, dia bilang masih akan mengusahakan hal tersebut, karena mereka semua sangat-sangat menikmati segala atraksi fans timnas yang sangat luar biasa dan original, dan belum pernah terjadi dalam sejarah pertandingan timnas Qatar di Qatar.

Tribun seberang gawang mulai terisi segelintir penonton Indonesia, saya pikir itu akan berlanjut, tapi tidak, masuknya supporter terhenti, dan anda semua harus tau, siapa yang tidak membolehkan, Bukan aparat keamanan, bukan petinggi QFA, bukan Match Comissioner, ya anda tidak akan pernah menyangka, Sebastiao Lazaroni! Dia bilang bahwa timnya bermain Home, bukan Away! Semua tidak ada yang bisa menolak argument dia, dan silakan anda interpretasikan semua, kenapa dia menolak penonton Indonesia masuk lebih banyak lagi J.

Terkait dengan analisa Post Factum Pak Lapis tentang perlu tidaknya tiket fans timnas diorganisir, pilihan sebuah kebijakan saya yakin kita semua pahami selalu mengandung resiko. Dalam sebuah pilihan kita seyogyanya  melihat perspektif yang lebih luas. Kalau tidak diorganisir, saya yang diuntungkan karena  akan bisa ajak anak istri saya untuk menonton di kursi empuk VVIP, tanpa peduli dengan kemungkinan kekacauan yang potensinya 50:50 karena kita tidak punya share tanggung jawab di sana. Jika itu pilihan yang diambil, saya pribadi tidak akan bisa membayangkan jika KBRI tidak memulai kordinasi dengan QFA sedari awal, akan tidak diketahui siapa kontak point jika terjadi situasi seperti kemarin. Kalau toh punya kontak point, namun kenyamanan hubungan tidak akan sama jika kita intens membangun hubungan dari awal. Lebih daripada itu, analisa post factum biasanya memang dipakai oleh sejarawan, yang memang berada pada posisi lembam, tidak terhimpit oleh factor-faktor terkait di sekitarnya, dan itu wajar saja, saya menyukai masukannya J.

Terlepas dari memang masih belum siapnya panitia dalam mengelola jumlah penontn melimpah, khususnya pendukung tim tamu, kacaunya pendekatan aparat di lapangan khususnya kepada para pemegang tiket, serta informasi yang terlihat suka berubah-ubah, saya pribadi relatif memiliki pandangan yang berbeda dengan salah satu anggota milis yang ingin menolak jika di masa datang ada undangan QFA untuk menonton gratis di Qatar. Kejadian 11-11-11 penuh dengan kompleksitas yang harus dimediasi dengan cara yang elegan dalam perspektif yang lebih luas. Namun tentu hak setiap orang untuk mengambil posisi, saya pribadi sangat menghormati itu.

All in all, segala emosi/perasaan yang tertumpah kemarin di stadion saya syukuri bisa menjadi media buat kita semua menghilangkan stress di tempat kerja, stress di negeri orang, serta dapat memperkuat silaturahmi antar WNI di Qatar. Dan segala kekurangan yang ada perlu kita perbaiki bersama. Dalam perspektif yang lebih luas, tetap tertibnya prilaku rekan-rekan meskipun menderita kekecewaan luar biasa dengan kegagalan masuk stadion, telah menjadi bukti bahwa warga Indonesia di Qatar dapat menjadi role model yang membantah prilaku buruk pendukung Timnas di tanah air. Terima kasih atas kerja samanya yang luar biasa!

Salam bola,

Al Aula

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s