Cerita Haji 1432H: Perjalanan Haji 2011

by Sulaiman

Alhamdulillah tahun ini saya bisa berangkat Haji dari Qatar. Ada cerita sedikit tentang jalan-jalan yang saya lewati dan sedikit tips dan trik trasportasi selama di tanah suci. Semoga bermanfaat, terutama bagi jamaah haji yang berangkat tahun-tahun mendatang.

Tambahan informasi, koreksi, dan sejenisnya sangat diharapkan.

Hotel – Haram pp.

Salah satu ‘challenge’ jamaah haji ekonomi dari GCC adalah letak pemondokan yang agak jauh dari Masjidil Haram (Haram). Kira-kira 7.5 km, biasanya di daerah Aziziyah Selatan. Untuk itu hamlah akan menyediakan coaster bus yang – tertulis dalam kontrak – akan mengantar kita pada tiap waktu shalat. Permasalahannya, jumlah bis yang disediakan tidak sebanding dengan jumlah jamaah. Sehingga tak jarang kita harus rebutan ketika berangkat dari hotel, dan kembali rebutan ketika waktunya kembali dari Haram.

Biasanya, jamaah akan berangkat menjelang shalat Dhuhur, dan kembali ke hotel selepas Isya. Kita bisa istirahat, makan siang, dan berada di sekitar Haram sambil menunggu waktu shalat, atau kalau mau numpang tidur siang (sambil dzikir…) bisa nyari level Mezanine di jalur Sa’i. Dingin dan sepi…

Untuk mengantisipasi kondisi transportasi ini, sebisa mungkin berangkat dari hotel lebih awal. Kira-kira jam 10.30 biasanya satu bis sudah stand-by di depan hotel. Jika terlambat dan tidak mau berebut bis hamlah, kita bisa mencari bis umum di jalan besar. Bis ini akan keliling keluar masuk pemukiman untuk mencari penumpang. Sopirnya akan teriak ‘Haram… Haram…’. Tarifnya 10SR saja. Bis ini akan mengantar kita hingga depan Ajyad Makkah Makarim Hotel, belakangnya Zamzam Tower, kira-kira 500 meter dari King Abdul Aziz Gate Masjidil Haram.

Kalau mau lebih personal, kita bisa nyari taksi di depan hotel. Tarifnya antara 20SR sampai 50SR. Untuk tarif, kita masih bisa nawar, tergantung mau nawar cara preman atau nawar gaya melas. Semuanya layak dicoba untuk hasil yang terbaik…Taksi akan melewati King Abdul Aziz Road, melewati terowongan, hotel Le Meridien, kemudian berhenti di underpass depan Zamzam Tower.

Tips untuk yang menggunakan taksi. Bagi yang membawa istri, atau membawa suami (???), ketika berangkat suami naik duluan, ketika sampai tujuan istri turun duluan. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Cari informasi tentang tujuan kita sedetail mungkin, seperti landmark atau gedung populer di sekitarnya.  Lebih baik kalau punya GPS. Jangan mengandalkan sopir taksi untuk tahu tujuan kita. Pelajari bahasa arab sebisanya, minimal ‘yamiin… yasaar… ‘alatul…’  karena kebanyakan mereka ‘Mafii Inglish ao Indonisiyi…’

Jika kita naik bis hamlah, kita akan diturunkan di depan Saudi Post, dekat kantornya STC. Petugas transportasi akan meminta kita menunggu di tempat ini juga kalau mau pulang. Tapi… jangan berharap banyak akan kita temukan bis disini ketika pulang, apalagi selepas Isya. Kendaraan yang masuk kesini akan di-screening oleh aparat pada jam-jam padat. Petugas transport hamlah yang membawa papan bergambar hamlah –sambil teriak-teriak Doha… Doha…- akan menunggu kita di bawah fly-over. (Doha maksudnya Doha Transport, kalau nama hamlahnya Cinere atau Gandul mungkin teriaknya akan lain…)

Tipsnya, karena jalanan ke arah Haram ini sangat padat, kita bisa jalan dan mencari sendiri bis hamlah yang lagi terjebak macet, naik di tengah jalan sambil menunjukkan ID kita ke sopirnya.

Jika kita hendak ke hotel bukan pada jam padat, bis hamlah akan menunggu di depan hotel Dyar Inn. Jika penumpang masih belum penuh, dan aparat polisi sudah mengusir bis, biasanya sopir akan berputar mengitari hotel Dyar Inn sampai ke fly-over, kemudian kembali ke Saudi Post, dan parkir lagi di depan hotel.  Jika bis ingin segera penuh, berdirilah di pintu bis dan teriak-teriak… ‘Doha… Doha…’ barangkali saja ada jamaah yang mencari bis ke hotel juga.

Bis hamlah akan beroperasi hingga jam 10 malam, selebihnya jika kita mau pulang ke hotel harus mencari taksi atau angkutan lain.

Untuk taksi maupun mobil omprengan, kita bisa dapatkan di bawah fly-over dekat Saudi Post. Tapi untuk ke Aziziyah Selatan biasanya sopir taksi agak malas, kalaupun mau tarifnya minta agak tinggi, karena memang jalannya memutar dan cukup jauh, juga melewati jalur macet. Alternatifnya, kita bisa kembali ke arah Haram, dan mencari taksi di pintu masuk terowongan sebelah terminal bis Saptco (terowongan yang atas). Taksi dan omprengan dari sini hampir semuanya menuju ke Aziziyah. Tarifnya pun lebih murah, sekitar 20SR saja.

Tempat mencari  taksi atau bis yang lain adalah underpass depan Zamzam Tower. Dari sini taksi lebih banyak, dan ada bis umum yang terminal akhirnya di Aziziyah adalah di Bin Dawood supermarket. Tarif Bis 10SR saja, Dari Bin Dawood bisa naik taksi lagi 10SR sampai hotel.

 

Kereta (Makkah Metro Train)

Alhamdulillah, jamaah dari GCC tahun ini bisa menikmati kemudahan transportasi pada hari Arofah, hari Nahar, dan hari-hari Tasyrik. Ada kereta yang akan mengangkut jamaah dari dan ke Mina, Arofah, Muzdalifah, dan Jamarat. Kereta yang katanya mampu mengangkut jamaah rata-rata 75.000/jam, dengan waktu tempuh rata-rata 5 menit dari statsiun ke statsiun berikutnya.

Mudah-mudahan fasilitas ini bisa terus dinikmati jamaah tahun-tahun mendatang.

Ada sembilan statsiun di sepanjang Arofah – Jamarat, masing-masing tiga di Arofah (Arofah 1, Arofah 2, Arofah 3), tiga di Muzdalifah (Muzdalifah 1, Muzdalifah 2, Muzdalifah 3), tiga di Mina (Mina 1, Mina 2, Mina 3). Statsiun Mina 3 disebut juga Statsiun Jamarat, karena terletak sejajar dengan Jamarat.

Jamaah dari Qatar mendapat alokasi di statsiun nomer 2, baik di Mina, Muzdalifah maupun di Arofah. Artinya kita akan naik dan turun di statsiun nomer 2 pada tiap jurusan, kecuali kalau mau ke Jamarat, kita akan naik dan turun di statsiun Mina 3 atau Statsiun Jamarat.

Tiket, menggunakan gelang berbahan plastik dengan tulisan ‘Hajj 1432H 7 Days Pass’, yang pemasangannya menggunakan klip sekali pasang. Di bagian ujung tiket terdapat nomor seri dan barcode. Pastikan ketika memasang klip, barcode dan nomer seri ada di bagian atas. Selama kita masih mau menggunakan kereta, biarkan gelang terpasang di tangan kita. Karena gelang tiket didisain untuk sekali pasang, untuk melepas kita harus merusak klip-nya atau memotong tiketnya. Ada tiga warna yang diperuntukkan bagi jamaah, biru untuk statsiun 1, kuning untuk statsiun 2, dan hijau untuk statsiun 3. Untuk panitia haji, ada gelang berwarna oranye yang bisa dipergunakan di statsiun mana saja.

Tidak jelas apakah karena tahun ini adalah masa percobaan, prakteknya tidak ada pemeriksaan tiket secara detail, apalagi di scan barcode-nya. Jamaah yang berdesak-desakan di pintu masuk statsiun cukup diminta mengangkat tangan yang ada tiketnya. Lewat. Kemudian hari saya temukan banyak jamaah dari negara lain yang tidak mengenakan gelang tiket, bebas bergelantungan di kereta. Tentu saja ini bukan untuk ditiru.

Dalam satu rangkaian kereta terdapat dua belas gerbong. Masing-masing gerbong memiliki lima pintu. Satu gerbong didisain untuk mengangkut sekitar 250 jamaah. Tempat duduk yang ada hanya cukup untuk kira-kira 50 orang saja, dan sisanya berdiri.

Tips untuk kenyamanan naik kereta : Karena tangga naik ke ruang tunggu berdekatan dengan gerbong bagian tengah, jamaah cenderung untuk berdesak-desakkan di daerah tengah ini saja, padahal gerbong yang ada di ujung depan maupun ujung belakang biasanya masih kosong. Untuk itu, ketika masuk ke ruang tunggu, berjalanlah sedikit ke bagian belakang atau bagian depan, akan kita temukan banyak pintu yang masih kosong, dan kita bisa menunggu disana sampai kereta tiba.

Sebetulnya ada jadwal yang disiapkan panitia haji untuk penggunaan kereta ini. Tapi tahun ini jadwal tersebut tidak ada. Mungkin untuk tahun-tahun mendatang. Gambar tentang Makkah Metro Train bisa dilihat di link berikut: http://www.youtube.com/watch?v=r011NJehEIg

Hari Arofah dan Hari Nahar

Pagi hari sebelum subuh kita berjalan menuju statsiun Mina 2. Shalat subuh bisa dilaksanakan di statsiun Mina 2, atau di jalanan sebelum masuk area statsiun. Kita ikuti leader grup yang membawa papan berlogo hamlah kita di depan. Tapi seandainya ketinggalan, tidak usah panik dengan memaksa mencari atau merangsek menerobos rombongan lain. Ada banyak kereta menuju Arofah, dan waktu wukuf dimulai selepas Dhuhur, ada banyak waktu. Sesampainya di Arofah, akan ada petugas hamlah di pintu keluar statsiun yang akan menunjukkan arah ke tenda.

Karena tenda di Arofah berdekatan dengan statsiun, selepas khutbah Arofah dan shalat Dhuhur dan Ashar  – yang di jama’ taqdim dan qosor -, kita bisa mencari tempat nyaman di bawah rel, maupun dibawah statsiun untuk berdoa hingga sore hari. Selain nyaman untuk berdo’a, sepanjang jalan di bawah rel ini adalah tempat lewat trailer maupun truk boks yang akan membagikan makanan ringan, buah-buahan, dan air minum kepada jamaah. Gratis…

Kira-kira satu jam menjelang waktu magrib, kita harus siap-siap berangkat dari tenda Arofah dan berkumpul di pintu masuk statsiun Arofah 2. Kereta pertama akan bergerak menuju Muzdalifah selepas magrib. Shalat Magrib dan Isya jama’ takhir dan qosor di Muzdalifah.

Pengalaman kemarin, sedikit saja terlambat tiba di statsiun, maka antrian sudah panjang, hingga ada jamaah yang tiba di Muzdalifah jam 10 malam, lengkap dengan cerita desak-desakkan sepanjang jalur antrian dan rebutan masuk ke dalam kereta.

Mabit di Muzdalifah di tempat terbuka, dulu tempat ini adalah parkiran bis (lihat gambar Penginapan Muzdalifah.jpg). Hamlah menyediakan hamparan karpet, dan tikar kecil untuk alas tidur. Sebisa mungkin untuk beristirahat di tempat ini untuk persiapan hari Nahar keesokan harinya.

Hari Nahar. Pagi hari, sebelum subuh kita bisa mandi dan bersih-bersih. Mengganti kain ihrom yang kotor dengan kain cadangan yang kita bawa. Tikar kecil yang dibagikan oleh hamlah kita tinggal disini. Shalat subuh bisa dilakukan di tempat kita menginap, atau bisa juga dilakukan di statsiun kereta, yaitu Muzdalifah 2. Untuk amannya dan antisipasi antrian, lebih baik dilakukan di statsiun.

Karena banyak jamaah yang biasanya sudah bergerak ke Jamarat sejak tengah malam, selepas subuh statsiun kereta lebih lengang. Dan kita bisa menunggu hingga langit kelihatan menguning kemudian kita naik kereta menuju Jamarat. Perhatikan, kereta akan berhenti di statsiun Mina 2, dimana banyak juga jamaah yang turun disini. Kita diam saja, menunggu hingga kereta berhenti di statsiun Jamarat.

Waktu perjalanan dari Muzdalifah 2 ke Jamarat kurang lebih 4 menit saja. Di Jamarat kita bisa menunggu di areal statsiun atau di jalan menuju Jamarat untuk mendapatkan waktu afdol melempar, yaitu kira-kira waktu Dhuha.

Statsiun Jamarat terletak se-level dengan lantai 4 Jamarat. Hingga kita bisa melepar jumroh di lantai 4 atau turun satu lantai ke lantai 3. Tapi jika mau ke lantai yang lebih longgar lagi, yaitu lantai 2, kita bisa turun melewati celah-celah barikade.

Akses untuk ke lantai 3 dan 4 Jamarat, selain dari statsiun juga dari highway yang ujungnya bergabung dengan King Abdul Aziz Road.

Selepas melempar jumroh Aqobah, Tahalul, dan mengganti pakaian, jika kita di lantai 4 (lantai paling atas), kita bisa turun menuju ke jalur massa kearah Masjidil Haram (Haram) untuk melaksanakan Thawaf Ifadah.

Ada beberapa alternatif jalan yang bisa ditempuh untuk menuju Haram, pertama kita bisa mengikuti jalur ‘kebanyakan’, yaitu berjalan kaki sesuai petunjuk arah, melewati jalan beratap seng, kemudian masuk ke Pedestrian Road Tunnel, dan keluar di terminal bis Saptco, sisi Marwah dari Haram. Panjangnya jalur ini dari Jamarat kira-kira 4.5 km. Jalur ini saya katakan jalur kebanyakan, karena mayoritas jamaah akan menggunakan jalan ini, dan kita akan melihat konsentrasi massa di sepanjang jalan, juga ketika tiba di Haram, masa menumpuk di sekitar terminal bis Saptco hingga halaman masjid.

Alternatif kedua adalah selepas Jamarat, baik dari ground floor, maupun lantai diatasnya, kita ambil jalur kiri, kemudian masuk ke highway (lihat gambar Exit Jamarat.jpg – yang bertanda merah). Ada sebagian jalan yang diperuntukkan bagi pejalan kaki, dan sebagian lainnya untuk kendaraan bermotor. Jalur ini relatif lebih lengang. Jika kita mau menggunakan jasa ojek, bisa didapatkan disini, dengan tarif antara 50SR hingga 150SR per-orang, tergantung ngototnya nawar. Yang mau ngojek berdua istri, suami bisa duduk di tengah dan istri di belakang. Pastikan jantung anda cukup sehat…

Yang ngeri naik ojek, bisa dilanjutkan jalan hingga pintu masuk terowongan (lihat gambar Tunnel Entry.jpg). Disini kita akan temukan empat terowongan. Dua yang sebelah kanan adalah terowongan menuju terminal bis Saptco, sisi Marwah dari Haram. Dua yang sebelah kiri adalah King Abdul Aziz Road, terowongan ini menuju sisi depan Haram, atau depannya Zamzam Tower. Di pintu keluar terowongan ini ada cabang ke terowongan lagi menuju terminal bis Saptco juga.  Hingga kita akan temukan di terminal bis Saptco ada empat terowongan lagi.

Kembali ke perjalanan, di pintu masuk terowongan King Abdul Aziz Road (yang kedua dari kiri), akan kita temukan banyak bis dan pick-up yang siap membawa kita ke Haram. Tarifnya, untuk bis biasanya 10SR, dan untuk pick-up cukup 5SR saja. Bis dan pick-up ini akan mengantar kita hingga underpass depan Zamzam Tower.  Kalau tidak menemukan angkutan disini, kita bisa melanjutkan jalan kaki, ada bagian jalan yang diperuntukkan untuk pedestrian.

Saya preferred menggunakan jalur ini karena ketika kita sampai di Haram, massa tidak sebanyak yang di sisi Marwah, jadi kita bisa leluasa mendekat ke tempat thawaf.

Jika semuanya lancar, kita bisa sampai di Haram kira-kira jam 9.00 dan mulai melakukan Thawaf Ifadah dan Sa’i.

Selesai Thawaf, sambil menunggu waktu Dhuhur kita bisa istirahat dan makan siang.

Selanjutnya adalah perjalanan balik ke hotel. Hamlah tidak menyediakan kendaraan untuk kita kembali ke hotel. Kita harus mencari sendiri taksi, omprengan, ataupun bis.

Taksi atau bis bisa kita temukan di underpass depan Zamzam Tower.  Mereka akan mematok harga tinggi pada hari ini. Triknya, jika tidak berhasil menawar dengan harga yang ‘rasional’ di underpass, kita jalan keluar ke arah Le Meridien hotel, disini kita cari taksi yang sudah ada penumpangnya, sehingga kita bisa share ongkosnya. Begitu juga dengan bis, jika di dalam underpass kita diminta 30SR, kalau sudah diluar tarifnya akan turun menjadi 20SR saja.

Alternatif lain adalah kalau melihat rombongan empat atau lima orang, kita ‘sok akrab’ dan gabung dengan mereka, rembukan untuk nyari omprengan Hummer, Tahoe, Suburban, atau Land Cruiser, dengan tarif antara 20SR sampai 30SR saja.

Hari Tasyrik

Sore hari pada hari Nahar, selepas ‘tahalul akhir’ – dalam tanda kutip-, kita harus kembali ke tenda Mina. Hamlah menyediakan bis untuk kesana.

Pada hari tasyrik, kita akan melempar jumroh selepas Dhuhur. Shalat Dhuhur bisa dilaksanakan di tenda, kemudian setelah makan siang kita bisa berangkat.

Ada dua alternatif untuk sampai ke Jamarat dari tenda Mina. Dari kompleks tenda Qatar ke Jamarat berjarak kira-kira 1.6 km. Pilihannya bisa langsung jalan kaki mengikuti ‘arus’ ke Jamarat atau naik kereta dengan sedikit ‘melawan arus’ untuk sampai ke statsiun Mina 2.

Jalan kaki. Kompleks tenda Qatar kebetulan berdekatan dengan jalan beratap seng yang ada banyak blower diatasnya. Untuk jalan kaki tidak akan terlalu berat. Jika mau melempar di tempat yang agak longgar kita bisa naik ke level Jamarat yang lebih tinggi, yaitu atasnya ground floor dan lantai 1. Ketika dekat Masjid Thaef, kita ambil jalur ke kiri yang bertuliskan ‘Escalators to 3rd Floor’. Kita naik eskalator hingga level 2 saja. Karena ke level 3 sudah diblok. Level 3 dan level 4 diperuntukkan bagi pengguna kereta dan jamaah yang dari arah highway kedua sisi Jamarat.

Selepas melempar, kita akan turun ke jalur massa di bawah. Ambil jalur kiri, untuk persiapan U-Turn. Ketika memutar, kita akan sedikit berjalan melawan arus sebelum melewati pembatas arus. Dari sini kita akan berjalan dibawah matahari hingga ke tenda kita. Ingat nomor zona tenda kita, karena di sepanjang arus balik ini ada banyak pertigaan dengan petunjuk ke nomor zona tersebut.

Naik kereta. Dari tenda kita berjalan melawan arus melewati jalan yang beratap seng untuk sampai di statsiun Mina 2. Jamaah yang menggunakan kereta tidak terlalu banyak. Bisa lebih cepat sampai Jamarat.  Dari statsiun kita berjalan memutar untuk masuk ke Jamarat Ula. Begitu juga ketika kembali ke statsiun, harus memutar agak jauh.

For experience… hari pertama saya jalan kaki, hari kedua naik kereta.

Demikian sedikit cerita perjalanan dan jalan-jalan haji tahun ini, tentu saja semuanya tergantung variabel waktu, musim, hamlah, dsb. Semoga bermanfaat. (sulaeman)

Wassalam

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Haji dan Umrah and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s