Be a Halal Auditor Yourself

Produk pangan olahan industri modern minimal berstatus ‘’syubhat’’ lantaran sangat rawan ternoda unsur-unsur haram. Konsumen harus cerewet.

Sabtu, 22 Oktober 2011. Huffft, jam sudah menunjukkan pukul empat sore, ketika Rachmat O’onasokhi Halawa dan istri serta anaknya baru terbebas dari jam lalu lintas di daerah Mangga Dua, Jakarta Pusat. Perut mereka keroncongan, belum sempat makan siang. Maka Rachmat belokkan mobilnya ke WTC (World Trade Center) Mangga Dua untuk cari tempat makan.

Di dekat lift WTC, kebetulan ada salah satu restoran seafood yang selama ini kata orang ‘’halal’’. Namun aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Halal Watch ini belum pernah menyambangi dan mencicipinya. Jadi, sekalianlah, mengkonfirmasi kebenaran anggapan tadi sambil mengisi perut lapar.

Rachmat dan keluarga memasuki resto yang bersemboyan “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima” itu. Setelah mengambil tempat duduk, kepada karyawati frontdesk yang menyambutnya, Rachmat bertanya, ‘’Apakah resto ini sudah halal?’’

‘’Halal, Pak,’’ jawabnya tegas.

Toh, feeling aktivis Milis HBE (halal-baik-enak) ini masih ragu. Apalagi ternyata resto itu belum mengantongi Sertifikat Halal dari MUI. Maka dia minta ijin untuk melihat-lihat ke dapur resto.

Mulanya, karyawati resto memustahilkan permintaan Rachmat. Tapi setelah agak dibujuk, dia masuk ke ruang belakang resto dan tak lama kemudian keluar lagi bersama seorang lelaki manager resto.

Kepada manager, Rachmat mengulangi permintaannya.  Upps, ternyata jawaban dia lebih keras lagi dari petugas sebelumnya.

‘’Restoran kami halal karena kami ini resto seafood.  Bla, bla, bla…,’’ sang manager berdalih macam-macam.

Dengan tenang profesional yang bekerja di PT Showa Indonesia MFG ini berkata, dia harus membuktikan semua klaim yang dikemukakan dengan melihat bumbu-bumbu dapurnya. Karena itu Rachmat tetap minta ijin masuk ke dapur.

‘’Maksud Anda apa?’’ tanya manager resto mulai curiga.

‘’Lho, saya ini mau makan, tapi sebelumnya saya harus memastikan bahwa yang akan saya makan bersama keluarga saya, itu halal. Karena restoran Anda ternyata belum memiliki sertifikat halal, maka saya harus memastikan kehalalannya,’’ tutur suami Dyah Purnama Dewi ini. ‘’Kalau tidak diizinkan, saya akan mencari tempat makan yang lain,’’ imbuh ayah dari Annisa Nailatul Muzhaffirah, Annisa Nailatul Izzah, dan Raihan Zhafran Halawa.

Akhirnya manager resto memanggil chef-nya. Dan, jawaban si koki sama saja dengan statemen managernya. Rachmat pun bergeming.

Manager menawarkan jalan tengah. ‘’Begini saja Pak,’’ katanya. ‘’Karena dapur tidak boleh dimasuki oleh orang luar, bagaimana kalau bumbu-bumbunya saya bawa keluar untuk Bapak lihat sendiri.’’

Tentu saja, langkah itu tidak menjawab keraguan konsumen. Kehalalan bukan hanya soal bumbu, tapi juga semua bahan baku dan tambahan serta cara penyimpanan, pengolahan, dan penyajiannya. Kalau ada satu saja menu yang berunsur haram di resto ini, kan semuanya bisa tercemar.

So, apa boleh buat, Rachmat mengeluarkan jurus pamungkasnya.

‘’Pak,’’ katanya pada manager dan chef resto. ‘’Saya ini seorang aktivis pemerhati halal. Maka, apapun yang saya dapatkan di sini, akan saya tulis di milis dan blog saya. Kalau tidak diizinkan, maka saya akan mencari restoran lain untuk makan, dan akan saya tulis apa yang saya alami ini. Kalau diizinkan, maka apapun yang saya lihat akan saya tulis juga.

Kalau ternyata tidak halal, maka saya tulis tidak halal. Dan kalau ternyata halal, maka saya tulis halal dan ini akan jadi promosi efektif buat restoran Anda.

Saya lihat nama Anda Islami, jadi mestinya tidak keberatan. Sebab, kalau saya makan di sini berdasarkan klaim halal Anda tapi ternyata saya makan yang haram, maka dosa kami Anda yang menanggung lho ya.’’

Mendengar ‘’ceramah’’ Rachmat, akhirnya si manager menyerah. Dia izinkan Rachmat masuk dapur resto.

Menggunakan Arak

Tentu saja, kedatangan ‘’orang asing’’ membuat heboh suasana dapur resto DC. Di sini, mereka membeberkan sejumlah bumbu racikan di meja, yang sangat sulit bagi Rachmat untuk mengetahui status halal atau tidaknya. Maka, dia meminta keadaan sebelum jadi bumbu tersebut.

Konyolnya, Rachmat dibawa ke ruangan sebelah tempat penyimpanan berbagai jenis ikan laut konsumsi. ‘’Lah, kalau ini sih tak masalah,’’  kata Rachmat sambil minta diperlihatkan bumbu-bumbu mentah.

Seorang supervisor dapur lalu menunjukkan SOP (prosedur tetap) pembuatan bumbu.

Jrenggg, astaghfirullah,  Rachmat tercengang alang kepalang. Di SOP itu jelas tertulis, salah satu langkah memasak adalah menggunakan arak alias khamar.

Dengan baik-baik, Rachmat lalu menyampaikan kepada managernya mengenai keharamankhamar. Ia juga menyarankan agar resto ini segera mengurus sertifikat halal, biar tambah maju.

‘’Akhirnya, saya mengajak anak-anak dan istri makan junkfood di dekat situ yang sudah bersertifikat halal. Apa boleh buat, sudah lapeeer,’’ kenang Rachmat, yang bersyukur istri dan anaknya  sudah mulai mengerti tentang keharusan memilih produk halal.

Harga Mati

Ya, produk halal adalah harga mati buat umat Islam. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 88: ‘’Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya.’’

Rasulullah saw menjelaskan, mencari yang halal adalah kewajiban setiap muslim. Beliau berwasiat, ‘’Menuntut yang halal wajib atas setiap muslim’’ (HR Ibnu Mas’d).

Suatu ketika seorang sahabat yang bernama Sa’ad bertanya kepada Rasulullah saw, bagaimana caranya agar doanya mustajab (diijabah oleh Allah). Jawab Rasul, ‘’Perbaikilah makanmu, maka Allah akan mengabulkan doamu’’ (HR Ath-Thabrani).

Sebaliknya, Nabi SAW pernah mengisahkan seorang musafir lusuh yang mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa, ‘’Wahai Tuhan, Wahai Tuhan (perkenankan doaku)’’ tapi makanan yang dimakannya haram, minumnya haram, pakaian yang dikenakannya haram, diberi makan yang haram. ‘’Bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” ujar Nabi (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Rasulullah SAW juga pernah berwasiat kepada shahabat bernama Sa’id ra: ‘’Duhai Sa’id, perbaikilah makananmu, niscaya kamu akan menjadi orang yang terkabul doanya. Demi Allah yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, sungguh orang yang memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal kebajikannya selama empat puluh hari’’ (HR Thabrani).

Peran Perempuan

Sebagai kepala keluarga yang kelak dihisab kepemimpinannya, Rachmat Halawa concernbetul pada kehalalan pangan, kosmetika, maupun obat-obatan yang akan dikonsumsi keluarganya.  Maka, bapak tiga anak ini pun mengajak orang-orang tercintanya untuk peduli halal.

Terlebih sang istri, yang memegang kendali belanja keluarga. Bahkan wanita pada umumnya, adalah agen yang efektif untuk mempengaruhi keputusan belanja. Menurut pakar marketing Faith Popcorn, wanita tiga kali lebih baik dibanding laki-laki dalam merekomendasikan sebuah produk. Perusahaan konsultan Interbrand juga menemukan fakta bahwa wanita dapat memberikan pengaruh sampai 80 – 85 persen dari semua pembelian konsumen (Majalah CAKRAM/Oktober 2005 : 20).

Menurut survei global, seorang ibu selain mengendalikan pembelian anak-anak dan suaminya juga memicu domino effect bagi keluarga lain mulai dari keluarga suami, tante, sepupu, termasuk keluarga tetangga (Kartajaya et al, 2005 : XIV).

Survei MarkPlus&Co di 14 kota besar di Indonesia dengan jumlah responden 2.200, menyatakan, ibu ternyata menjadi pengambil keputusan dominan untuk pembelian beragam produk mulai dari peralatan dapur, pakaian anak, obat bebas, sekolah anak, hingga liburan keluarga.

Berdasarkan hasil riset dari NMR tahun 2003, wanita untuk SES A1 (dengan penghasilanlebih Rp 2,25 juta/bulan) terdapat 84 % di antaranya menjadi pengambil keputusan pembelian barang. Berikutnya SES B dengan penghasilan Rp 1,25 juta – 1,75 juta sebesar 85 % pembelian barang ditentukan oleh wanita. Demikian pula SES C, D dan E wanita juga dominan dalam keputusan pembelian barang yaitu 87%, 85%, dan 81%.

Secara global, wanita mengontrol US$20 triliun (2009) belanja konsumer per tahun. Angka tersebut bakal meroket menjadi US$28 triliun dalam lima tahun ke depan. Pendapatan setahun mereka menembus US$13 triliun (2009) dan akan naik lagi menjadi US$18 triliun dalam waktu lima tahun ke depan.

Harus Cerewet

Hal tersebut juga disadari Dr Prita Kusumaningsih SpOG. Pengurus Bulan Sabit Merah Indonesia ini, aktif menyerukan kepedulian halal kepada keluarga dan lingkungannya. Dia juga aktif di Milis HBE bersama Rachmat Halawa.

Ketika belum lama ini produk permen Yupi akhirnya mendapatkan sertifikat halal, Prita mengingatkan agar produsen Yupindo segera menegaskan status produknya yang masih beredar di pasaran.

‘’Konsumen harus mendapat kepastian, mana produk keluaran lama sebelum mendapat sertifikat halal, dan mana yang diproduksi sesudah mengantongi sertifikat halal,’’ tutur Prita di Milis HBE.

Menurut Susi, aktivis Formala (Forum Masyarakat Peduli Halal) Serpong, Tangerang, kaum ibu di jaman ini memang harus lebih ‘’cerewet’’ dalam memilah dan memilih produk kebutuhan sehari-hari.

‘’Bagaimana tidak harus cerewet,  karena sebagian besar produk yang beredar tidak memiliki jaminan kehalalan. Dari nasi goreng keliling sampai resto kelas atas, mesti kita tanyakan status kehalalannya,’’ ujar warga Perumahan Melati Mas, Serpong, itu dengan bersemangat.

Ia mengutip Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, yang menyatakan bahwa produk pangan olahan industri modern minimal berstatus ‘’syubhat’’ lantaran sangat rawan ternoda unsur-unsur haram.

Dalam mendakwahkan kehalalan produk kepada produsen atau penjual, Susi menempuh cara persuasif  seperti yang dilakukan Rachmat tadi. Dia memprioritaskan pada produk yang laris manis, sejak jajanan keliling perumahan sampai toko atau resto yang banyak bertebaran di kawasan elite Serpong.

‘’Saya datangi penjualnya, lalu saya katakan kalau saya mau beli atau makan di situ jika sudah bersertifikat halal. Kalau belum, ya saya sarankan mengurus sertifikasi halal agar saya sekeluarga dan teman-teman bisa makan di situ,’’ Susi menuturkan langkah-langkah dakwahnya.

Jika penjual belum ngeh soal kehalalan, Susi menjelaskan titik kritis produk yang dijualnya. ‘’Misalnya, produsen bakery and cake biasanya memakai rhum. Maka kepada mereka saya jelaskan, rhum adalah sejenis minuman keras sekelas whiskey dengan kadar alkohol tinggi, antara 38% sampai 73%,’’ papar Susi.

Jika penjual atau produsen bandel dan melakukan kebohongan publik misalnya self-claim, lanjut Susi, maka dia ‘’ancam’’ untuk mempublikasikan dan bahkan memperkarakan lewat gugatan class action.

Untuk menjalankan dakwah sebagai ‘’auditor halal’’ bagi diri, keluarga, dan masyarakat, tentu saja Susi mewajibkan diri mengaji soal-soal halal. Misalnya di pengajian Formala atau Milis HBE.

Jelas, dia harus konsekuen. Misalnya ketika mendapat penjelasan bahwa sepatu impor merek X ternyata kulitnya dari kulit babi sehingga najis dan haram, maka Susi kontan memusnahkan sepatu milik suaminya yang bermerek itu.  (nurbowo, AULIA April 2012)

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s