Mentafakkuri Sepotong Khobus

Khobus

by Efriyadi

(LANJUTAN MENTAFAKKURI RUMPUT FAHAHIL) 

تكذبان ربكما آلاء فبأي

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Alhamdulillah saya masih diberi waktu luang untuk kembali belajar menulis.

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang Rumput Fahahil, bahwa nanti ketika kita dibangkitkan, kita akan menjadi diri kita seperti saat akhir hayat kita. Temanya adalah ‘BERSYUKUR’, lawan kata dari kufur.

Sudah lazim diketahui bahwa selera orang berbeda- beda. Dengan satu jenis makanan yang sama, satu orang dengan yang lainnya bias jadi berpendapat yang berbeda, bahkan berlawanan. Misalnya saat makan rujak, seseorang akan bilang nikmat sekali, seorang lagi bilang terlalu pedas, yang lain bilang asem, dsb.

Kemudian, kita ambil perumpamaan yang mungkin tidak terjadi beneran tapi sesuailah untuk penggambaran.

Ada 7 orang bepergian jauh melewati padang pasir (disesuaikan sama kondisi Dukhan), setelah beberapa lama, mereka merasa lapar dan haus, sementara perbekalan habis (entah nggak bawa karena berharap ada warung di tengah perjalanan, atau memang habis, namanya juga perumpamaan). Ternyata mereka menemui sebuah rumah di tengah gurun. Mereka segera meminta kepada penghuni rumah untuk disediakan makanan. Tapi si pemilik rumah cuma khobus, kurma, dan sedikit air. Akhirnya setiap orang masing2 menerima selembar khobus, sebutir kurma, dan secawan air putih, gratis, nggak usah mbayar! Tiap orang berkomentar berbeda- beda.

Orang 1: Wuah, kalo kayak gini malah bikin nambah haus.

Orang 2: Kenyang sih, tapi coba kalo airnya agak banyakan.

Orang 3: Sudah rasanya nggak enak, seret, malah nambah haus.

Orang 4: Meskipun rasanya nggak karuan, yang penting nggak kelaparan dan

kehausan.

Orang 5: Yah lumayan, yang penting nggak kelaparan dan kehausan.

Orang 6: Kenyang, nggak haus, dan tenaga pulih lagi.

Orang 7: Kenyang, sueger, bergizi, dan uenak lagi!

Nah, bisa saja kan? Yang perlu diingat adalah khobus, kurma, dan air minum itu adalah NIKMAT! Masalahnya adalah kita sadar nggak sedang diberi nikmat itu. Jika sadar, maka kita akan mengakui bahwa itu adalah nikmat. Jika nggak sadar, ya bagaimana mau mensyukurinya? Yang lebih parah adalah yang sadar tapi tidak mau mengakuinya.

Si pemberi makanan tentu saja nggak akan senang dengan sikap orang 1,2, apalagi yang ke-3. Mending nggak usah dikasih, wong sama saja, tetap ngeluh, tetap merasa sengsara. Mending makanannya diberikan kepada yang lain.

Lalu kita perhatikan orang ke-4 sampai ke-7, mereka bersyukur, tapi tingkatannya berbeda- beda.

Di sini kita bisa menghubungkan kondisi di atas dengan kondisi orang beriman/ bersyukur dan orang yang kufur/ kafir.

Kita perhatikan ayat berikut:

QS 21: 107

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Jadi Rasulullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, termasuk manusia di dalamnya. Menurut hemat saya, yang menjadi rahmat bukan cuma sosok orangnya, personalnya saja, tapi apa yang dibawanya itulah yang lebih penting. Seorang utusan tugasnya adalah menyampaikan atau melakukan sesuatu sesuai keinginan yang mengutusnya (dalam hal ini Allah  سبحانه وتعالى). Maka yang dibawanya itulah yang menjadi rahmat. Tapi jika utusannya tida amanah, maka apa yang dibawanya menjadi sia-sia. Maka yang menjadi rahmat adalah Rasulullah SAW sendiri, dan apa yang dibawanya, yaitu Al Qur’an. Untuk lebih ringkasnya  kita sebut saja keduanya dengan satu kata: Islam.

Kalau memang Islam adalah rahmat, maka artinya Islam adalah nikmat. Lalu ada orang yang sadar dan mengakui bahwa Islam itu nikmat, maka dia beriman kepadanya. Ada lagi orang yang tidak sadar atau tidak menganggap bahwa itu adalah nikmat, maka dia kafir/ kufur.

 

QS 2: 41

وآمنوا بما أنزلت مصدقا لما معكم ولا تكونوا أول كافر به ولا تشتروا بآياتي ثمنا قليلا وإياي فاتقون

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa

Jadi, orang- orang yang mengakui Islam sebagai nikmat dan selalu berusaha mengikuti petunjuk yang ada pada Islam tersebut, maka mereka bisa dikatakan orang yang bersyukur.

Sedangkan orang- orang yang tidak menyadari, atau menganggap bahwa ajaran Islam adalah nikmat, maka mereka bisa disebut sebagai orang- orang yang kufur nikmat. Bahkan mereka semakin tersiksa dengan sampainya ayat- ayat Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, seperti contoh orang ke-3 di atas.

Islam adalah rahmat bagi semesta alam, karunia, dan nikmat dari Allah سبحانه وتعالى yang tiada tara. Sepatutnyalah kita mensyukurinya dengan cara melaksanakannya dengan sebenar- benarnya. ( Mudah- mudahan kita, terutama saya mengingatkan diri sendiri supaya bisa melaksanakannya). Maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan kita sampai 31 kali dalam surat Ar Rahmaan.

فبأي آلاء ربكما تكذبان

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Terus, hubungan dengan tulisan sebelumnya?

Saya sebutkan bahwa kita akan dibangkitkan sesuai kondisi kita pada akhir hayat kita. Yang pada masa hidup sampai akhir hayatnya menjadi orang yang bersyukur (menerima Islam), maka akan dibangkitkan menjadi orang yang mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah  سبحانه وتعالى. Sebaliknya, yang kufur nikmat akan terus merasa susah meskipun mendapat nikmat dari Allah سبحانه وتعالى.

Karena Islam equivalen dengan sorga, maka ketika di dunia kita diberi nikmat berupa Islam, di akherat kita diberi nikmat berupa sorga. Yang di dunia biasa mensyukuri Islam, menikmati Islam, maka di akherat mereka akan mensyukuri dan menikmati sorga. Sedangkan yang pada waktu di dunia tidak mensyukuri, bahkan merasa tersiksa dengan adanya Islam, maka di akherat mereka tidak akan mensyukuri sorga, bahkan tersiksa.

Lha terus buat apa dikasih sorga kalau masih merasa tersiksa? Nggak ada bedanya mereka dikasih neraka, wong sama- sama bakalan merasa tersiksa. Nah, sebagai furqon (pemisah) antara orang- orang beriman dan orang- orang kafir, maka dipisahlah tempat kediaman mereka di akherat. Satu golongan hidup di sorga, satu golongan hidup di neraka. Bukannya Allah سبحانه وتعالى itu sadis (seperti yang dituduhkan orang- orang yang merasa tuhannya penuh kasih), lha wong dikasih apa saja tetap sambat, tetap ngeluh kok. Beda dengan orang beriman yang dikasih nikmat apa saja tetap bersyukur, enjoy. Bahkan mungkin diberi nikmat berupa neraka (bukan berupa adzab lho ya) juga mereka tetap akan merasa nikmat.

Orang pun akan berbeda dalam merasakan sorga, sesuai kadar syukurnya. Semakin tinggi rasa syukurnya yang diaplikasikan dengan pengamalan Islam yang semakin bagus sewaktu di dunia, semakin dia menikmati sorga. Seperti halnya ketika orang ke-7 menikmati khobus. Maka mungkin Allah yang maha adil memberi sorga yang sama bagi orang- orang yang beriman (maaf, saya tidak berani menyebut kita, soalnya kita belum tentu masuk sorga), tinggal tergantung seberapa tinggi kualitas syukur orang yang di dalamnya. Bisa jadi tingkatan sorga itu adalah bahasa lain dari tingkatan kualitas syukur penghuninya. Allahu a’lam.

Tapi bagaimanapun juga, Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan neraka sebagai balasan bagi orang- orang yang kafir, dholim, musyruk, fasik, munafik, maupun yang sesat. Jadi tulisan di atas hanya sebagai perumpamaan saja. Mudah- mudahan Allah سبحانه وتعالى member petunjuk yang lebih benar, Allahuma amiin.

.

QS 6: 27

ولو ترى إذ وقفوا على النار فقالوا يا ليتنا نرد ولا نكذب بآيات ربنا ونكون من المؤمنين

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).

 

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s