Menjawab Pertanyaan Sang Vegetarian

by Efriyadi

وسخر لكم ما في السماوات وما في الأرض جميعا منه إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. QS 45:13.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.

Di sini, di tempat kita bekerja sekarang ini, kita punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan orang- orang non muslim. Beberapa diantara mereka kadang- kadang menyerang, atau sekedar mempertanyakan masalah ajaran Islam. Saya bertemu dengan seorang beragama lain, kebetulan sekarang seshift dengan saya, jadi frekuensi pertemuan kami cukup sering. Kadang saya mendengar dia bertanya kepada seseorang, kadang juga langsung ke saya, yang setelah saya amati ternyata bermaksud menghina ajaran Islam.

Dia pernah bertanya tentang puasa, orang yang bukan muslim tetapi baik dalam hubungan sosialnya, bertanya kepada saya apakah saya mengerti bahasa Arab ketika saya sedang baca Al Qur’an, dsb, yang tujuannya melecehkan ajaran Islam, bahkan sempat menghina perayaan Hari Raya Idhul Fitri. Tapi kadang saya telat tanggap, sehingga saya baru sadar setelah selang beberapa waktu. Misalnya tentang puasa, saya baru tau setelah saya mengetahui bagaimana mereka berpuasa. Tapi pertanyaan tentang bahasa Arab, langsung saya jawab dengan tegas: BISA! Meskipun tidak 100% (tidak 100% kan bisa 99% atau 0,001%, nggak bohong dong saya), itu karena saya langsung tanggap.

Artinya mau tidak mau saya harus siap menjawab jika tiba- tiba dia menyerang lagi.

Masih dalam tema mengambil pelajaran dari ‘tanah para nabi’, saya kemukakan jawaban yang telah saya siapkan jika dia bertanya tentang memakan hewan. Selama ini dia sudah nyerempet- nyerempet, tapi belum menyerang secara langsung. Itupun akan saya jawab kalau dia memang menganggap gaya hidup vegetarian itu lebih baik. Saya tidak akan berargumen jika jalan vegetarian hanya untuk dirinya sendiri dengan alasan pribadi.

Jika dia bertanya,”Kenapa kamu menyiksa hewan, apa nggak punya rasa kasihan?” Atau pertanyaan senada. Pertanyaan ini sepertinya sempat terlontar kepada kompatriotnya, jauh hari sewaktu saya baru gabung di sini. Saat itu beberapa orang yang sekompatriot dengannya sempat membahas pertanyaan itu. Saya tidak terlalu menanggapi karena belum pede berbahasa bule. Saya hanya berpegang pada ayat di atas dan sebuah pertanyaan counter attack lawas, “memangnya kamu tahu kalau binatang yang disembelih itu merasa sakit?”, dan sebuah pernyataan logis tentang hewan qurban: kalau hewan yang dikorbankan itu punya perasaan, tentu mereka akan sangat bangga, karena mereka adalah termasuk hewan pilihan, nyaris sempurna (syarat hewan yang dikorbankan kan harus yang terbaik).

Tapi dalam menjawab pertanyaan sang vegetarian itu, tentu kita tidak bisa mengemukakan ayat Al Qur’an di atas, itu hanya untuk pegangan kita saja.

Atau bisa kita utarakan tanpa menyebut bahwa sumbernya dari Al Qur’an, karena kalau dia tahu itu dari Al Qur’an, bisa dipastikan dia akan menyanggah (karena sudah alergi duluan). Cara seperti ini banyak kita jumpai dalam kisah siroh nabawiyah.

Atau bisa kita ungkapkan bahwa itu berasal dari Al Qur’an, dengan syarat lawan bicara sudah mengakui kebenarannya. Ini bisa kita temukan contohnya pada saat Ja’far bin Abi Thalib berdebat dengan Najasyi raja Habasyah/ Abisinia/ Ethiopia.

Tetapi menurut saya, cara yang paling ampuh adalah menggunakan alasan yang bisa diterima akal pikiran lawan bicara. Contohnya ada pada Nabi Ibrahim a.s saat beliau menghancurkan berhala- berhala dan menyisakan satu yang paling besar.

Kita bisa perhatikan pada QS An Anbiyaa (21) ayat 51-65.

Kita perhatikan cara pertama yang dipakai, secara blak-blakan Ibrahim a.s menyampaikan kebenaran. Yang terjadi kaumnya tidak bisa menerima. Hal ini terjadi kepada hampir seluruh nabi yang tersebut dalam Al Qur’an, bahkan setelah ditunjukannya mukjizat!

Kemudian cara kedua. Beliau sebenarnya berhasil mematahkan argument kaumnya, dan kaumnya pun paham (ayat 65). Sayang, mereka tetap memilih mengingkarinya.

Maka jika dia bertanya demikian, akan saya ajak dia keluar untuk melihat dan memperhatikan gurun di sekitar pabrik, dan balik bertanya,”Jika kita hidup di sini, apa yang akan kamu makan untuk mempertahankan hidup? Jangan berpikir tentang mess, McD, dll. Di sini hanya ada tumbuhan liar yang tak berbuah, dan tidak bisa dimakan kecuali oleh binatang. Kalau saya, saya akan bikin jebakan burung atau biawak, jika ada yang tertangkap, sembelih, bersihkan, bikin api, panggang, makan, kenyang.”

Saya tidak bisa memikirkan apa yang akan ia makan di tempat semacam ini.

Ya, hanya itu jawaban yang akan saya sampaikan kalau dia menyerang. Mungkin bagi yang sering berlayar di laut sudah lebih dulu mendapat inspirasi serupa. Bagi saya hal ini baru terpikirkan setelah saya hidup di tanah para nabi.

Salam,

 

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s