Kenapa Pindah??

by Ruslan BIP | iffdukhan

Bukan pilihan sulit kalau kamu sudah ga terlalu mikirin duit. Pengalaman berharga yang ga bisa dibeli, kesempatan emas menaburkan lebih banyak citarasa, serta warna warni pengalaman hidup. Saya sudah berkali2 baca buku psikologi bab “mengatasi masalah diantara keputusan sulit,” dan nasehatnya hampir selalu sama, bahwa kamu cuma harus lakukan yang terbaik atas pilihan yg sudah dipilih. Kecewa dan sedih sama sekali ga ada gunanya kalo cuma menghambat produktivitas. Abraham Naslow, psikolog Amerika bilang, “If the only tool you have is a hammer, you tend to see every problem as a nail,” lalu, “The best years of your life are the ones in which you decide your problems are your own. You do not blame them on your mother, the ecology, or the president. You realize that you control your own destiny,” kata Albert Ellis, psikolog lainnya. Dari banyak artikel yang saya pernah baca, banyak petuah dari para ahli, bolak-balik halaman buku, akhirnya saya punya kesimpulan: “buku psikologi itu memang tebal-tebal.”

Bukan pilihan sulit kalo kamu sudah ga terlalu mikirin duit. Saya percaya bahwa materialisme manusia sedikit banyak dipengaruhi budaya. Jadi ga salah kalo setiap individu punya standar masing2 terhadap tujuan hidupnya, dan semakin berarti manakla tujuan hidup itu tercapai. Kita adalah bagian dari kelompok manusia yang cuma sedikit lebih modern dari manusia jaman dulu, manusia yang semakin nokturnal, yang berkomunikasi lebih kompleks dengan laptop dan smatrphone, persilangan antar ras yang menghasilkan cuma satu ras, ras manusia.  Manusia yang berbudaya dan bertujuanhidup.

Saya bukan ga materialistis, faktanya saya perlu negosiasi berbulan2 menunda2 keberangkatan ke Qatar supaya dibayar dengan harga yang pantas. Tapi yang penting adalah, saya tidak meletakkan materi pada prioritas utama tujuan hidup.  Jadi manakala negosiasi itu berakhir tidak sesempurna yang diharapkan, saya masih bisa bersyukur bahwa banyak hasrat hidup yang bisa semakin terpuaskan dengan memilih pindah bekerja ke Qatar. Hasrat hidup lain, diluar dari materi. Saya masih ingat bagaimana perlakuan tidak fair di tempat saya bekerja dulu, tanpa kesalahan kerja, tidak pernah menerima warning, tidak ada accident, tiba2 divonis, kemudian rehat bekerja beberapa bulan, perusahaan tidak mau berusaha netral dan mencari masukan dari orang2 terdekat yang bekerja dengan saya. Ditambah denda 40 juta yang sama sekali bukan tanggungjawab saya, lalu upaya keras saya untuk meminta kembali hak-hak, sebagian dikabulkan, sebagian lagi tidak. Setahun terakhir di SPU saya sudah berusaha melakukan yang terbaik, meski nasi telah menjadi bubur, catatan kelam itu tetap membekas kemanapun saya pindah. Banyak orang baik disana, tapi tetap ada orang yang tidak baik. Meski setahun terakhir berusaha keras untuk ikhlas, saya cuma bisa sampai pada kesimpulan bahwa saya manusia biasa, punya batasan ikhlas layaknya manusia lain. Dan akhirnya, semua itu membuat langkah kaki saya untuk escape dari Total, semakin ringan.

Jam 6 pagi hari, biasanya saya sudah selese pake seragam di kamar B5-15, sambil melototin si Harun yg pagi2 suka bengong, maklum semalam habis ngigo “mana uangku, mana uangkuu.” Kesian bener si Harun, siapapun yg jadi teman sekamarnya, dia selalu jadi objek intimidasi. Jam 6.15 ke restoran, biasanya sudah ada Brama disana, duduk manis kaya anak cewe sambil pesan nasi porsi sebakul (ini belum ditambah sama croissant n cake yang ditaro di plastik gula ukuran jumbo). Brama ga sadar kalo bagi para waiter di resto, sosoknya bukan terlihat seperti pegawai perusahaan minyak, tapi lebih mirip rampok kelas kakap. Biasanya kalo brama datang, para waiter udah saling diskusi, “eh, tu Brama datang, kamu aja yg layanin,” sambil koki mengintip2 nakal dari belakang menatap sosok Brama,, hmmm,, tpi kali ini bukan krn pak koki takut makanannya abis loh,, tpi krn pak koki diem2 menaruh hati pada Brama.

Di depan Brama, ada Bayu, sambil clingak-clinguk nunggu pesanan datang, matanya liar memerhatikan setiap wajah yg ada di restoran, menangkap sosok2 menarik di resto. Bagaimana mungkin, di resto semua cowo bay!!

Biasanya saya datang langsung cari makan, lalu makan dengan lahap ditemani siapa saja yg mau duduk semeja. Kalo sama Dicky obrolannya tentang “kenapa Dicky berkpribadian dua,” kalo sama Brama, “kenapa makan porsinya dua,” kalo sama Mbah Marjan, “stock Wilden Pump kita tinggal dua lan,” kalo sama Julak Oding, “koq istrinya dua??.” Julak Oding akan ketawa2 lebar dan lepas, tanpa beban tanpa noda di hati, sabar dan bahagia always. Tapi jangan ketawa terlalu lebar lak, ntar mulutnya mangap ga bisa nutup lagi.

Dengan segelas  esprresso produksi coffee maker pangansari, tusuk gigi yg digigit-gigit sampai remuk, menyusuri koridor dan lapangan, di kiri-kanan orang2 rapi bersih dan segar siap bekerja, melepas senyum tulus khas orang Indonesia tiap berpapasan di jalan, saya berngkat ke kantor.

Sebelum sampe kantor, biasanya mampir ke woorkshop, ketemu sama Oom Wondo, yg lagi nyari teflon. Bukan buat sealing thread, tapi untuk dijadikan tali kacamatanya. Beberapa lembar kain reg diselipkan ke dalam safety helmet-nya, tidak lupa nuts, bolts, adjustable wrench, dan tentu saja, sisir kecil untuk bulu di atas kepalanya, semuanya diselipkan ke dalam bajunya, mencari setiap sela baju yang bisa diisi. Baju Oom Wondo jadi mirip kantong doraemon, tapi kalo ini doraemon  kelahiran 40an. Oyah, kalo Williams Pump, sama konci Bean Choke ga ada tempat untuk dibawa, Oom Wondo juga akan nyari sela dibajunya untuk disipkan. Pernah Oom wondo berusaha masukin sesuatu ke dalam bajunya, tapi ga bisa2, dicoba2, tetep ga bisa,,, Oom wondo kesal, kenapa susah banget masukin barang itu ke bajunya. Saya ketawa, maklum benda itu adalah Wilden Pump. Oom wondo kalo ketemu saya di pagi hari akan ngomong gini, “good morning selamat pagi, gigi kuning belom mandi,” sambil tatapannya sinis mengejek. Saya kaget tersinggung, koq Oom wondo tau?? karena saya memang belom gosok gigi. Tidak lupa, untuk yang ke 76 kalinya Oom Wondo mengingatkan “Lan, jangan lupa kalo naik tangga monyet, nafas ditahan, biar gak ambeyen.” Pesan sama ke-76 kalinya untuk saya, pesan yang sama beratus2 kali untuk teman2 yang lain. Anyways,,,, Hiduuupp Ooom Wondo!!

 

Sekitar 30 menit di office sebelum teman-teman berangkat lagi ke sumur2 gas lapangan Tunu South, pekerjaan rutin. Biasanya sebelum yang lain nongol di radio, Inugh sudah muncul duluan dengan basa-basi sambal terasi, kata dia biar selalu eksis. Tapi jangan marra, kalo si Inugh di-marrra-in, beeee dia balas marrra. Inugh akan tampil dominan di radio, akan tersinggung kalo dominasinya di radio diganggu, muncul dengan frekuensi paling lambat 5 menit sekali. Kalo ga muncul, besar kemungkinan dia lagi sakit gigi.

Itu beberapa bulan lalu, waktu masih bekerja di lapangan Tunu South, sebelum akhirnya 2 minggu lalu, saya berangkat hijrah ke Qatar.

Delapan jam penerbangan bukanlah waktu yang lama kalau itu adalah penerbangan jauh dengan pesawat bintang lima pertama yang kamu alami dalam hidupmu. Banyak waktu tersita cuma excited, memerhatikan, sedikit grogi, banyak orang asing, banyak bahasa asing, dan kamu duduk dipojokan, sedikit gugup takut English-mu berantakan karena belom pernah teruji di English speaking countries, bengong melongo karena pramugarinya sangat variatif, dari mata sipit, mata belo, sampe mata kotak2, hidung pesek, hidung mancung, sampe hidung imitasi, dari Chinese sampe Sudanese, dari segala macam konsep cantik, dari cantik eropa yang blonde matanya biru, sampe cantik (ga tau konsep cantik darimana) mirip Tuminah pembantu tetangga sebelah rumah, sampe cantik Indonesia yang matanya ijo (kalo ini ijo karena mata duitan). Saya cuma duduk lalu kembali melongo, mirip anak kampung baru pertama kali ke Jakarta, lalu masuk Plaza Indonesia.

Melongo, excited, sedih, haru, penasaran. Entah semua masa akan saya habiskan atau tidak, kontrak kerja sudah saya tandatangani sampai usia 60 tahun. Banyak waktu mesra, kenangan manis-indah di rumah juga di tempat kerja, wajah-wajah orang-orang terbaik dan terdekat, yang melintasi imajinasi saya, juga setiap kelakuan-kelakuan mereka, hal-hal besar sampai hal kecil yang mereka pernah lakukan. Foto2 di laptop yang masih tersimpan rapi, wajah-wajah bahagia mereka, kenangan manis yang tak mungkin saya lupakan. Tanpa terasa setetes air mata mengalir, Good bye Fellas!!

Malam hari sampai di Doha, Qatar, suhunya sama dengan siang hari di Indonesia, kering!. Saya cukup lega karena rupanya English saya masih laku disini, dan lebih lega lagi karena lebih banyak ketemu orang dengan Broken Indian-English, Funny Egyptian-English, Weird Pinoy-English . Orang Qatar disini cuma bisa mengenali wajah Southeast Asian, tanpa bisa mengenali dari negara mana, karena disini banyak orang Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Kadang cuma dengan bertanya langsung baru mereka bisa tau, atau sedikit menebak dari aksen bicara. So, kalo kamu bicara Inggris dengan aksen agak lain dari orang2 senegaramu, karena terpengaruh aksen Papua, lebih banyak karena keseringan nonton Oprah dan serial “How I Met Your Mother,” mereka akan langsung bertanya sedikit penasaran, “where did u learn English?.” Ini saya alami berkali-kali, biasanya saya jawab ngasal , “Papua.” Beres!!

Saya ga mau terlalu banyak cerita tentang ini, tapi saya cuma mau bilang, agen yang membawa saya pindah bekerja ke QP, adalah agen yang cuma mengejar uang semata, dan melepaskan saya bak anak kucing kehilangan induknya, lompat sana lompat sini, lari sana lari sini cari taksi, bahkan ga dikasih tau kalo esoknya setelah tiba di Doha, saya harus menjalani medical check-up ulang, dan karenanya harus berpuasa 10 jam lebih awal.

Oke, jadi besoknya saya lakukan medical check-up tanpa puasa 10 jam seperti seharusnya, saya naik mobil dengan sopir seorang India, menuju klinik perusahaan. Sekitar 30 menit menempuh perjalanan di kota Doha yang panas, sopir berhenti depan sebuah gedung. Saya bertanya untuk memastikan,

Saya       : so, is this the clinic?

Sopir      : *geleng2 kepala

Saya       : so why do you stop here? Drive me to the clinic, hurry up, the doctor is waiting.

Sopir      : *kembali geleng2 kepala

Saya       : *dengan bahasa tubuh pake tangan yg digerak2in kaya wayang orang* “trus kenapa lo stop    disini bro??”

Sopir      : *sambil geleng2 kepala lagi, sambil tangannya nunjuk2 seolah bilang, “yaelaaah,, klinik nya itu yah disini iniiii, gimana si mas bro ini.”

Jadi saya keluar mobil untuk mengecek apakah bangunan itu benar2 klinik, dan rupanya ya, itu klinik yang dimaksud. Di dalam klinik saya ketemu orang Filipina, curhat sedikit, dan akhirnya saya ngeh setelah diberitahu kalo cara orang India bilang “yes” adalah dengan geleng2 kepala. Hmmmhhhh, jadi jangan pernah percaya sama goyangan kepala orang India, goyangan kepalanya bisa menjerumuskan.

Di ruangan antre medical check-up sudah ada beberapa orang dengan berbagai macam jenis pakaiananeh. Saya sendiri, biasa, cuma pake celana panjang, baju batik, sama tas laptop yg isinya sisa korma yg belum habis setelah buka puasa tiga hari lalu. Receptionistnya seorang perempuan Arab putih yang subhanallah cantiknya. Hidungnya mancung, senyumnya manis, tatapan matanya memesona. Di tempat duduk ruang tunggu, ada beberapa pria arab berpakaian khas jubah putih arab, dengan sorban di kepala. Mereka semua ganteng-ganteng, tiap berpapasan sesama mereka akan saling berciuman pipi. Sebelah kiri-kanan saya orang Eropa, dan sambil membaca koran terbitan lokal berbahasa Inggris, duduk di depan saya seorang Filipina yg mukanya mirip penjual roti.

Kami semua menunggu antrean untuk medical check-up. Perawat senior kebangsaan India akan memanggil nama kami satu persatu, bergiliran.

Setelah setengah jam menunggu, lima orang telah dipanggil oleh si India, lalu giliran orang ke enam dipanggil. “Abdullah Al-Khaleefa, come!”. Suasana tenang, tidak ada yang berdiri. Lalu si India memanggil lagi, “Abdullah Al-Khaleefa, please coome,” suasana tetap tenang. Si India kemudian mengecek kembali kertas yang dia bawa, lalu kembali bicara, “mmmm, sorrry, this is not Abdullah, Mahmoud Al-Khaleefa, please come.” Seorang pria muda arab berdiri, mukanya merengut sedikit kesal karena sudah lama mengantre cuma berujung salah nama.

Oke, jadi setelah si Mahmoud dipanggil, beberapa menit kemudian perawat datang lagi memanggil, “Roti lo, come,” lagi2 ga ada yg berdiri. “Roti looooeee, where are u??,” tetap ga ada yg nyahut… Saat itu saya udah mulai ckikikan kecil,, si India nyari2 roti dalam klinik. “Roti looooo, please come,” kata si India lagi. Ga ada yang nyahut sampe si Filipina berdiri trus bilang, “Roleeto?.” Si India ngecek kertasnya lagi, trus menjawab “oh ya, Roleeto, sorry, please,” sambil mengajak si Filipina masuk ruangan. Saya ga tahan nahan ketawa, si India salah panggil nama orang lagi, seisi ruang tunggu juga ikutan ngakak, karena si India nyari roti di ruang tunggu.

Di Qatar panas dan gersang, jelas ga bisa dibandingin sama hijaunya Indonesia. Orang2 disini jelas beda dengan orang2 Indonesia yang ramah suka senyum. Saya ga tau mau bilang apa, agak sungkan kalo mau dekskripsikan sikap orang Arab. Banyak orang Arab yg kaya, tapi bukan kekayaan yang ditempuh karena pencapaian ilmu dan teknologi, melainkan karena minyak. Banyak dari mereka yang arogan, karena kaya, dan sedikit rasis terhadap bangsa lain. Bukan semua Arab tentunya, bagaimanapun saya juga ga berhak generalize, ada orang baik ada orang kurang baik, di setiap suku di setiap bangsa.

Khusus orang Qatari, mereka golongan nomer satu di negeri mereka sendiri. Mereka bekerja tidak segiat para expatriates, dan digaji jauh lebih besar dibanding expatriates meski jabatan sama. Saya pernah sekali ngantre cukup lama di StarLink Doha untuk perbaikan BlackBerry karena OS disini beda dengan di Indonesia, setelah lama mengantre dan tiba giliran nomor tiket saya dipanggil,  seorang pemuda Qatar langsung maju ke barisan depan counter, membuat saya harus bersabar menunggu antrean lebih lama lagi, karena dia pasti akan diprioritaskan. Cuma contoh kecil betapa mereka benar2 menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan sedikit arogan. Jangan bandingkan orang kaya Qatar dengan orang kaya Eropa, mereka benar2 beda. Orang kaya Qatar, they are accidentally rich, orang kaya Eropa, they work to get rich. Ini yang membedakan, sehingga jelas keliatan mana yang open minded mana yg engga. Ga semua Qatari begitu, atas inisiatif pemerintah Qatar, banyak pemuda Qatar yang dikuliahkan di Eropa, Amerika, dan Australia, lalu kembali ke negerinya dengan gelar sarjana. Biasanya mereka ini lebih berwawasan terbuka, tidak rasis, sopan, mengisi jabatan yang lebih tinggi di perusahaan, dan tata bahasa mereka enak di dengar dengan bahasa Inggris yang sangat baik.

Sebetulnya ini negara yang sangat unik, karena kalo di world IQ map, Qatar itu among the dumbest on earth, dengan rata2 IQ 78, tapi mereka adalah negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, mereka menyempil dari garis kualitas manusia VS kualitas finansial yang biasanya korelatif sehingga membentuk garis hampir lurus. Mereka menyempil bersama Korea Utara, tapi dengan kurva terbalik. Korea Utara termasuk negara paling miskin dengan rata2 kualitas berfikir penduduknya termasuk yang terbaik di dunia.

Saya pernah curhat sama teman saya yang sudah beberapa tahun menempuh S2 di Sharjah, UEA, mengenai beberapa orang Arab yang arogan. Teman saya cuma bilang, “u’ll get used to it.” Meski begitu, Mr. Salah dan Mr. Hamad boss saya, Qatari asli, adalah dua orang asing terbaik yang pernah saya temui selama disini. Lalu senior saya yang sudah 10 tahun bekerja di Qatar juga bilang, meskipun orang Qatar banyak yg arogan karena kaya, tapi mereka ga seburuk yg kamu bayangkan, dan mereka termasuk Arab paling ramah diantara negara Arab yang lain.

Oke, bagaimanapun, saya sudah pindah dan untuk sementara menetap disini. Masih ingat waktu hari pertama pindah ke site di dukhan City, masuk ke kamar yang panas, lalu pergi mencari makanan buka puasa dengan berjalan kaki 2 KM di bawah matahari yang panas, karena belum punya kendaraan, dan belum punya kenalan satupun. Ketemu banyak orang dari banyak negara, sehingga bisa berkesimpulan, orang Indonesia mungkin paling ramah di dunia. Berada di gurun, dengan bangunan pencakar langit di Doha, musim panas yang bikin kerongkongan kering, kangen sama suasana hijaunya Indonesia, saya masih berkesimpulan : bukan cuma kekayaan yang bikin bahagia.

Bagaimanapun pindah bekerja disini telah manambah lebih banyak pencapaian saya dalam daftar “things I should have done before 30,” yang saya buat dulu.

 

*20 things I should have done before 30*

1. Menjelajahi Kepulauan Derawan (done)

2. Bekerja di luar negeri (done)

3. Bisa renang tahan nafas 50 meter (done)

4. Menjelajahi Pulau Bali (done)

5. Punya rumah sendiri (done)

6. Pernah naik Helikopter (done, sering dulu di Total)

7. Beli BlackBerry (done)

8. Dapat OD diatas 30 hari (done, dulu di CPA)

9. Pernah ke Papua (pula kampu, beloom)

10. Sembuh dari penyakit “mudahlupanamaorang”.

11. Sembuh alergi, berhenti buang ingus sembarangan (Mudahan bisa)

12. Menikah, punya anak

13. Pernah ke Venezuela

14. Pernah ke Jepang

15. Dapat tandatangan Rafael Nadal (bagaimana mungkin?)

16. Bisa bahasa Spanyol (susah untuk otakku yg suka lemot)

17. Debat sama Roy Suryo

18. Dapat istri cantik

19. Donasi ke nyokap berangkat umrah/ haji

20. Jadi orang yang lebih baik setiap harinya (in progress)

Tambahan :

21. Tumbuhin rambutnya Alfi (hampir mustahil)

22. Beliin Oom Wondo obat kembali muda, penurun usia (mustahil)

23. Bikin Inugh berenti ngoceh di radio (sangat mustahil)

24. Mengajak Brama kembali ke jalan yang benar (sungguh sangat mustahil)

Tanpa basa basi lagi, krn ngantuk tulisan juga ngawur,,  sampai disini dulu.

16-17 Agustus 2011, di Dukhan City yang lagi panas,,

 

Merdekaaaaa!!!

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Oase Kehidupan and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kenapa Pindah??

  1. erna says:

    Ih bagus tulisan om…lanjutkan terus hobby menulisnya..lumayan buat membunuh kejenuhan dan menambah pahala karena udah membuat yang baca ketawa karena sedikit geli..hi..hi..salam buat supir india yach kalau nanti ketemu lagi..hi..hi..

  2. Thanks Mba Erna….semoga ketawanya nggak terlalu lama dan nggak ketawa2 sendiri…hehehhe,,,

  3. hyda says:

    I’m so in love wid u alrdy…admiring,sedih,terharu,ketawa smua jd satu sukses bkin gastritis sy kumat but its worth it.sumpah…jelous with u’r wife.salam kenal n take care always ya…(berkali2 baca tp ttp bikin mulas)

  4. Trims Hyda atas komentarnya. Enjoy Our Lives!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s