Kisah Udin Dua Dunia

by Ruslan BIP | iffdukhan

Banyak berita ga aktual yg aku tulis waktu magang jadi reporter tamu di sebuah koran lokal dulu. Coz waktu itu aku masih SMA, sibuk sama pelajaran matematika, biologi, kelompok ilmiah, kelompok fisika, main bola, main halma juga main ular tangga. Reporter magang yg lain udah pada kuliah, waktu luangnya lebih banyak. Jadi karena sibuk, aku yang dibayar cuma Rp. 250.000,- waktu itu, lebih memilih untuk nyari bahan berita yang dikumpulkan seminggu lebih cepat, kuselesaikan dalam sehari, trus ku setor ke redaktur sehari demi sehari, redaktur ga tau kukadalin. Berita ga aktual, tapi sampai juga ke meja pejabat lokal yang ketawa ketiwi baca2 tulisan reporter gadungan ini sambil minum kopi dan di mejanya berserakan dokumen tender siluman, juga sampai ke meja tukang cukur jalanan yang sembari nyukur sambil baca koran alhasil cukurannya pitak, pelanggan kecewa, marah, dan tentu saja, terrr guun caangg!! Well, at least I’m being honest, coz in fact some writers were more tricky than me.

Meskipun perusahaan media besarnya ga bisa dibandingkan dengan perusahaan minyak internasional dimana aku kerja sekarang, aku salut karena tiap hari ada aja meeting pagi membahas tentang topik berita, headlines, juga koreksi gaya tulis, punctuation, sampe diksi dalam tulisan.

Artinya perusahaan care sama kualitas produksinya. Aku lebih suka diem kalo ikut meeting, karena yg lain orang2 tua semua, aku ga nangkap makna obrolan meeting, maklum sering ngantuk berat, setelah semalam sibuk main halma main ular tangga.

Aku bukan penulis yg baik, coz aku sering melanggar aturan nulis yang benar, suka guyon, ga serius dan suka bikin HOAX, haha. Aku cuma pegawai perusahaan minyak swasta yang suka memutar valve, seorang traveller & explorer, yang kadang nulis kadang juga jadi fotografer gadungan.

Jadi karena tanpa reputasi, sepertinya cuma kedekatan personal waktu ada teman yang ngajak ikutan nulis di buku dan majalah, dan yg terakhir Bang Boy ngasi info kerjaan jadi reporter di majalah, ya majalah….tapi majalah Fashion!! Mungkin samaran lip gloss ku telah diketahui Bang Boy secara diam-diam!!

Dua hari lalu aku chatting dengan seorang editor gadungan yang bekerja untuk Pak SB yang dekat dengan Pak NB, aku curhat ttg pekerjaanku yang monoton, dan andai saja aku bisa kerja jadi penulis di kolom wisata sebuah media besar, merangkap sebagai fotografer, berkelana keliling dunia sebagai traveller penjelajah alam dan dibayar setara gaji di perusahaan minyak, what a wonderful job it’ll be.

Jadi aku setorkan sebuah artikel yg aku bikin sehari sebelumnya, untuk diliat kemampuanku. Tapi rupanya mata sang editor emang tajam, tak bisa diperdaya oleh manusia HOAX, kata dia tulisanku tulisan penulis gadungan, ga jelas titik koma, bikin pusing dan ga nikmat dibaca, terlalu berat dan ribet. Hahaha,, aku ga tau apa si temanku itu pernah baca tulisan macam “A History of God”nya Karen Armstrong, waktu aku baca tulisan itu, kepalaku pening 3 hari 2 malam, berenti baca karena hampir sinting. Tapi setelah kucermati, memang tulisan ini lompat-lompat kesana kemari. :))

Daripada dibuang sayang, notesku yg ini kutambah dengan tulisan yg kubuat beberapa hari lalu, yang memang perlu banyak perbaikan, yang menceritakan sedikit real story kisah Jumaludin.

Selamat Pagi!

Jumaludin dan istrinya tinggal di rumah sangat sederhana daerah perkampungan beberapa blok dari rumah dimana saya tinggal. Istrinya, sebaya dengan dia, adalah pembuat kue, yang kuenya biasanya akan dijajakan Jumaludin sore hari dengan berjalan kaki mengelilingi perkampungan dan perumahan, dengan teriakan jualannya yang khas. Jumaludin dan istrinya tidak memiliki anak, entah apa alasannya dan rumah mereka benar-benar kurang hiburan, tidak tersentuh oleh teknologi moderen kecuali sebuah TV kecil berwarna, mungkin sudah beberapa kali dibawa ke tukang servis untuk perbaikan. Setiap kali melewati rumah Jumaludin, terdengar gelak tawa bahagia penghuni rumah dan tetangga, basa basi gossip a la penjaja kue, perbincangan tepung terigu olesan mentega sampai santan kelapa. Jumaludin biasa menjajakan kuenya, dan hampir setiap sore melewati depan rumah saya, berteriak-teriak menjajakan dagangannya dengan suara serak. Saya dibuat kesal beberapa kali, berturut-turut, karena terganggu dengan teriakan seraknya saat saya sedang sibuk dengan laptop, kamera, juga carik kertas untuk menulis. Saya pikir seharusnya Jumaludin bisa lebih bekerja keras, mencari pekerjaan lain, pekerjaan seorang pria, yang boleh menguras tenaga dibanding sekedar berteriak-teriak menjajakan kue, dan memperoleh penghasilan lebih baik untuk istrinya. Julaludin benar-benar membuat saya kesal dengan suara seraknya. Tapi pikiran itu akhirnya sirna, saat suatu sore Jumaludin kembali menjajakan kue dengan teriakan seraknya di depan rumah saya, lalu saya tergoda untuk membuka jendela kamar, melihat wajah Jumaludin, kemudian berlanjut membuka pintu mempersilakan dia masuk, memborong kue jajanan ala kadarnya buatan istri tercinta Jumaludin. Saya iba, Jumaludin rupanya sudah renta, usia di atas 60 tahun, senyum keriput wajah berminyak dan hanya menyisakan beberapa gigi bertahan di gusinya. Jumaludin, pria renta penjaja kue keliling dari rumah sederhana penuh gelak tawa kebahagiaan.

Manusia adalah makhluk kompleks dengan pikiran kompleks, kompleksitas yang beragam pada setiap kebudayaan dan berkembang dari masa ke masa, melewati zaman dan era. Karena setiap tindakan manusia di-drive oleh keinginan dan pikirannya, maka semakin lengkaplah kompleksitas perilaku manusia. Ada masa dimana kekuatan fisik menjadi ultimate power kehidupan manusia. Konon saat itu, beberapa ratusribu tahun lalu, manusia memenangkan kekusaan dengan kekuatan fisiknya, berhasil memperoleh banyak buruan dan selamat sebagai buruan, adalah kedigdayaan. Zaman berkembang membawa peradaban pada level terbaru, dimana kemampuan berfikir, keteraturan sikap, daya tahan dan semangat juang memperoleh porsi makin besar demi pencapaian hidup setiap individu manusia. Warren Buffet phylanthropist kaya raya, Barrack Obama sang ahli podato, Michael Phelps, Valentino Rossi, sampai Moammar Qaddafi. Gambaran pencapaian hidup masa kini.

 

Konon Julius Caesar pernah sangat jatuh cinta pada Cleopatra, ultimate beauty pada masa lampau, yang mungkin kecantikannya akan dianggap rata-rata atau di bawah rata-rata pada peradaban sekarang. Peradaban terus berkembang, membawa manusia mengarungi zaman melampaui era, tetap dengan pikirannya yang kompleks.

Di Mauritania, konsep cantik bisa sangat berbeda dibanding konsep serupa di belaham bumi lain, wanita gempal sangat memesona pria di sana. Sedikit gambaran bahwa pikiran yang memicu perilaku, kuat dipengaruhi oleh persepsi, yang sangat erat kaitannya dengan tingkat peradaban dan kebudayaan. Level bercinta dan jatuh cinta pada tikus, selevel dengan aroma tubuh pasangannya, singa betina mudah terlena oleh singa jantan berbulu paling lebat di lehernya. Manusia, oleh pikirannya yang kompleks, dipengaruhi budaya dan peradaban, punya citarasa yang lain terhadap konsep cinta, lebih luas dan kompleks. Lantas bagaimana konsep cinta cacing dan ubur-ubur?.

Manusia merana, pilu, sedih, perih. Manusia tertawa bahagia, senang, menang. Pada suatu tahap saya sadar bahwa menang-kalah, subjektif-objektif, hanyalah persepsi baik-buruk yang dikelola oleh pikiran. Hanya persepsi!!. Disamping kerendahatian, toleransi, kejujuran dan keterbukaan, manusia kompleks juga dilengkapi dengan kesombongan, otoritarian, kebohongan, ketertutupan. Sifat-sifat negatif terakhir rupanya sangat natural, memainkan peran penting dalam bertahannya umat manusia melintasi zaman. Egoisme manusia telah membantu mereka tetap exist dengan pencapaian yang signifikan. Alam bisa rusak, fauna punah, kalah bersaing dengan manusia yang lebih cerdas, kuat, dan tentu saja, egois. Sifat-sifat dasar manusia rupanya akan tetap muncul dalam sikap kelompok yang lebih luas, seberapa seringpun negosiasi dan diskusi pikiran telah dilakukan oleh individu-individu penghuni kelompok. Seperti misalnya negara kaya yang kadang memberi bantuan negara miskin, di lain pihak tetap mempertahankan arogansi, kekuasaan, dan kekuatan melalui perang. Sikap positif dan negatif nagara sebagai kelompok besar adalah cerminan sikap setiap individu di dalamnya, yang sudah bercampur baur, saling bernegosiasi. Kemenangan, kekuasaan, pride, yang dikejar manusia tetap akan muncul sebagai fitrah manusia, meski pada tahap tertentu saya anggap hanya persepsi, yang dikelola oleh pikiran.

Ilmu psikologi menerangkan bahwa pikiran manusia bisa abstrak, dipengaruhi persepsi, sehingga level kebahagiaan, yang seharusnya korelatif dengan level kesejahteraan dan kekayaan, bisa sangat beragam tergantung tujuan hidup, keinginan, dan tentu saja oleh pikiran setiap individu yang kompleks.

Kekayaan, Kesejahteraan, Kebahagiaan

World bank dan IMF setiap tahun mengeluarkan data besarnya kumulatif produksi barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam kurun waktu satu tahun yang dikenal sebagai GDP. Data itu diranking untuk setiap negara, kemudian dibagi dengan jumlah penduduk dan menghasilkan GDP per capita. Dalam hal ini, Indonesia di tahun-tahun terakhir menempati peringkat 110-an dari 180-an negara, berada di level yang sejajar dengan Filipina dan Honduras, dengan trend positif korelatif dengan angka tertumbuhan GDP yang dalam APBN tahun-tahun terakhir biasa diproyeksikan 5%-6% per tahun. GDP per capita Indonesia secara umum menggambarkan kekayaan fisik yang dimiliki rata-rata setiap individu di Indonesia. Itulah gambaran level kekayaan yang selalu dikejar pemerintah karena nilainya paling terukur.

Orang kaya belum tentu sejahtera sama halnya seperti orang miskin yang belum tentu tidak sejahtera, meskipun kesejahteraan sangat erat kaitannya dengan kekayaan. Saya ambil kata sejahtera karena kata inilah yang paling cocok menggambarkan kondisi yang diukur sebagai HDI ( Human Development Index ) atau IPM ( Indeks Pembangunan Manusia ). Data skala HDI ini secara rutin dikeluarkan oleh BPS untuk menggambarkan kondisi kesejahteraan rata-rata setiap kota di Indonesia. Pada skala yang lebih luas, UN, IMF dan World Bank juga secara rutin melakukan pemeringkatan HDI setiap negara di dunia. Buat saya level kesejahteraan ini lebih penting dibanding kekayaan karena selain memperhitungkan bobot kekayaan, HDI juga mengukur harapan dan kualitas hidup, serta aksesibilitas pendidikan dan akses berpendapat, kepemilikan barang primer, termasuk kesehatan. Karena banyak faktor yang mempengaruhi, HDI memang tidak lebih mudah diukur dibanding GDP.

Saya pernah sedikit berdebat dengan teman saya yang menganggap bahwa GDP itu lebih penting dibanding HDI. Gambaran kecil bahwa cara berfikir orang memang berbeda-beda, dan kompleks selevel dengan pengalaman hidup, budaya, dan prioritas hidup. Rupanya manusia tidak pernah kehilangan akal, sadar bahwa level kebahagiaan tak selalu selaras sejalan dengan kesejahteraan, dan lebih dekat kaitannya dengan pencapaian tujuan hidup, maka dikenal pula HPI ( Happy Planet Index ) dan GNH ( Gross National Happiness ). Research mengenai skala ini dilakukan sebagai indikator yang mengukur kualitas hidup dan kemajuan sosial secara lebih holistik dan psikologikal dibanding GDP maupun HDI. Pemeringkatan ini mencakup kebebasan berpendapat, kebebasan politik, keamanan individu, lingkungan yang indah-ramah-tamah, serta akses menuju kebahagiaan secara umum.

Banyak hal yang tidak bisa diukur dengan kekayaan atau dibeli dengan uang. Orang-orang pedesaan bisa tidak lebih kaya dibanding orang perkotaan, tapi mereka bisa menikmati lingkungan yang lebih asri, udara lebih segar, penduduk yang ramah-tamah. Orang-orang India dengan penghasilan 2 USD sehari, akan jauh lebih bahagia ketika penghasilan mereka meningkat menjadi 10 USD  dibanding orang-orang Eropa yang berpenghasilan 100 USD kemudian turun menjadi 80 USD.

Beberapa orang lebih serakah, yang lain apa adanya. Buat saya, apapun bentuk ukurannya, HPI, GNH atau apapun itu, kebahagiaan yang sebenarnya lebih erat kaitannya dengan tujuan hidup, lebih penting dibanding kekayaan.

Manusia memang kompleks, perilakunya di-drive oleh keinginan, keinginannya dipengaruhi budaya, tingkat peradaban, dan persepsi baik-buruk. Kekayaan, pride, kemenangan layak diperjuangkan manakala sejalan dengan tujuan hidup, tidak mengurangi kebahagian, dan tidak merampas kebahagiaan orang lain.

Komarudin bukan Jumaludin penjual kue. Komarudin adalah pegawai tinggi perusahaan besar. Komarudin orang yang cerdas, kuat, gagah dan kaya. Tindakannya efektif efisien. Komarudin sering dibuat pusing oleh load kerja yang menumpuk, dan dia berusaha menyelesaikannya secara baik dan benar. Tapi apa daya tangan Komarudin cuma dua, otaknya cuma satu. Alih-alih masalah selesai, Komarudin sering dibuat stress oleh kerjaannya. Komarudin cerdas, kuat, gagah dan kaya, tapi wajah Komarudin sering merengut, suram kurang tawa. Level berfikir Komarudin sangat kompleks, jauh lebih komleks dibanding Jumaludin si kakek penjual kue. Komarudin lebih kaya, lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih muda dibanding Jumaludin, tapi Komarudin menebar lebih sedikit tawa, lebih banyak muram. Apakah Komarudin lebih bahagia dibanding Jumaludin?

Ini memang bukan kisah Udin sedunia, ini hanya Kisah Udin Dua Dunia,

Selamat pagi lagi!!

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Oase Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s