Penjelajah Alam di Surga Bawah Laut ==> Catatan dari Kepulauan Derawan

by Ruslan BIP | iffdukhan

Desir ombak terdengar lembut,

Di kayu-kayu penyangga losmen, berbaris menempel segerombolan siput,

Matahari mulai redup, warna jingga turun cahayanya lembut,

Manta liar berkeliaran mengikuti ombak yang pasang lalu surut,

Penyu hijau langka bersama para tukik bersemayam, mencari tempat sekedar bertahan hidup,

Kami berenam, para penjelajah alam, di surga bawah laut…

Wew, aku nulis lagi. Kalo off ga ada kerjaan emang bikin BT, cuma bisa melakukan hal2 yang ga mutu ga guna. Akhirnya cuma bisa gangguin ponakan2 main monopoli, ikutan main Guitar Hero dan jadi absolute winner karena lawannya cuma anak2 SD ingusan jarang mandi dibegoin dikit bengong, bikin ponakan nangis karena boneka teddy bear nya kujadiin bantal, nonton kelakuan Qadaffi si Mr. Otoriter yang bebal ga sadar betapa berharganya kehidupan manusia. Nonton politikus di TV lagi bicara tentang akhlak dan moralitas, padahal anak dia ratu dugem, nonton si Adul yang ga gede2, Mbak Angie nangis bombay ditinggal mas Adjie, Mas Dhani senyum2 puas nikmat sejahtera sedikit laknat telah menikmati Mulan, si Tom badannya gede tapi selalu dikadalin Jerry, nonton ilmuwan melakukan research tentang telekinesis dan membuahkan harapan, sampe lomba ngulek sambal sama nyokap yang akhirnya aku menangkan dengan skor telak, mengalahkan nyokap yang sudah jadi ratu “ulek sambel” dengan working experience puluhan tahun, yang bisa ngulek dengan berbagai macam gaya dan pose, dengan rasa yang mak nyooos, jauh diatas standar Pangansari. Tapi nyokap kalah, reputasi beliau dalam ulekan sambal telah runtuh,, kalah cepat dalam proses penyajian, maklum aku pake blender!!

Jadi ketika suatu malam di tanggal 11 Maret 2011 aku menerima SMS dari cowo lumayan ganteng sedikit gila lebih banyak genitnya bernama Abid yang mengajak aku mempersiapkan kamera profesional untuk liburan di Pulau Derawan, tak kusia2kan kesempatan dan membalasnya dengan “aku udah sangat siap dek Abid, kamera profesional ini berfungsi sangat baik, bukan cuma sebagai kamera, bisa dipakai sebagai alat komunikasi yang ampuh, mereknya Simbadda, eh salah, BlackBerry” Abid paham akan reputasiku sebagai fotografer gadungan tapi hasil selalu memukau jebolan CPA site yang belakangan memproduksi lebih banyak fotografer gadungan tapi hasilnya top makro top. Jadi ga perlu penjelasan, aku pasti cuma iseng dengan kamera merek BlackBerry. Kutanya dia sedang apa, Abid bilang sedang memilih2 bikini mana yang warnanya cocok untuk dibawa ke Derawan Island. Aku bilang “pink cocok untuk karaktermu yang genit”. Lumayan banyak perbincanganku sama Abid melalui SMS, sampe aku kaget karena tiba2 Abid ganti nomer HP dan pura2 jadi mamaku trus SMS aku begini “mama lagi di kantor polisi, kehabisan pulsa. Ini nomer mama yang baru, tolong isikan mama pulsa ke nomer ini, ini penting sekali, jangan telepon, pokoknya isiin aja”. Aku baru tau kalo Abid suka pura2 jadi emak2 supaya diisiin pulsa!!

Jadi paginya di hari itu, kami berangkat ke Derawan. Aku sang fotografer gadungan dengan sedikit kemampuan renang, sedikit bisa bahasa asing dan faseh satu bahasa daerah (teman2 yang udah tau,, ini rahasianya, ai mokay budi bapa ni ayyy) dan sedikit kelihaian menyembunyikan tissue bekas ingus di laci meja. Hendry Saputra, pria melankolis dengan daya ingat prima, wawasan luas yang suka dengan bunga karang model rafflesia. Aditya Tjahya alias Bebe manusia baik hati yang selalu lucu dan ceria yang kemanapun berwisata di Indonesia akan selalu diterima baik oleh penduduk lokal, karena wajahnya selalu mirip penduduk lokal. Hendra Suhesti si inisiator trip yang dengan keikhlasannya sudah mau nombokin kami tiket Balikpapan-Derawan PP yang setiap orang harga tiketnya Rp.1.065.000. David Zainal yang lugu penuh pesona yang biasa mengenakan sepatu model terbaru. Dan abid, cowo ganteng rambut kriwil yang berwawasan luas tapi suka genit sama cowo.

Kami berenam sudah di Sepinggan Airport sejak jam 11 pagi, tapi karena delay, pesawat Batavia Air tujuan Berau berkapasitas 144 tempat duduk baru bisa berangkat jam 13.50. Waktu aku mo boarding, aku liat ada penerbangan lain, Susi Air Susi Similikiti, penerbangan milik Ibu Susi yang biasa melayani rute2 terpencil. Kata temanku dulu Bu Sussy Similikiti ini pernah jadi dosen tamu di ITB, dan memberikan kuliah dengan gaya nyentrik sambil merokok dimana peserta kuliah juga termasuk dosen, dan si dosen yang suka melarang mahasiswanya merokok pun dibutnya melongo dan terguncang!! Ibu Susy, kau benar-benar Sussy Si Milly Kitty.

Penerbangan Sepinggan – Kalimarau, Berau memakan waktu 45 menit. Aku duduk disamping mbak2 genit yang hobi gossip, yang masih sempat nelpon sama kolega gossipnya beberapa menit sebelum pesawat take off. Mendekati Berau, dari atas terlihat wilayah daratan tertutupi hutan tropis, menyejukkan mata. Cuaca berawan, tapi pesawat landing dengan mulus di Bandara Kalimarau, Berau. Kulihat ada tulisan Total terpampang besar di bandara Kalimarau, rupanya bandara di kota kecil ini juga dibangun oleh Total.

Total Bangun Persada.

Dari Berau perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Tanjung Batu, mengendarai mobil sewaan yang membawa kami selama 2 jam menuju dermaga. Dari pelabuhan kami akan diantar menuju pulau impian, yang katanya punya pemandangan menakjubkan, surga bawah laut. Sampai di pelabuhan, perjalanan dilanjutkan selama 45 menit menggunakan speed boat. 40 menit perjalanan, pulau Derawan sudah terlihat. Air laut jernih, dasar laut terlihat dengan jelas. Terlihat gerombolan flying fish (ikan terbang) yang pengen show off sengaja terbang di kiri kanan speed boat sambil lirikan matanya tertuju pada kami, menatap kami sinis. Mereka terbang beriringan, sepertinya menuju pohon mo bikin sarang disana. Pemandangan ini sungguh menakjubkan, aku pun takjub! Abid terpesona, Kaka terpukau, David terkesima, Sun terperdaya, Adith ngupil.

Setelah menempuh 45 menit perjalanan. Sampailah kami di Pulau Derawan. Kesan pertama,, wow!! *speechless. Air laut jernih sehingga mata puas melihat segerombolan ikan bercanda ria, menari2 diatas terumbu karang, penuh keceriaan. Kata teman2 penjelajah alam, konon keceriaan ikan2 ini akan sirna manakala ikan otek lewat. Ikan otek punya reputasi buruk di dunia perikanan, berada di kasta sudra kalangan ikan. Apabila para balita ikan sedang asik bermain halma bermain ular tangga ditemani cemilan cacing goreng, si ikan otek suka menampakkan diri tiba2. Datang tak diundang pulang tak diantar. Ini yang suka bikin mama ikan marah,, biasanya para balita ikan disuruh berenti main oleh mama ikan, sambil dinasehati “tuh ada setan nongol, jauh2 dari dia, liat mukanya bikin emosi, cuih!!” Sambil mama ikan menatap sinis pada ikan otek. Mirip sama kelakuan mama2 glamour terhadap gelandangan yang pernah aku liat dulu di dekat Blok M. Keadaan ini buat ikan otek sungguh terluka. Hatinya sembilu terguncang. Ikan otek pengen operasi wajah biar terlihat secantik ikan salmon, tapi apa daya teknologi para ikan belum sampai pada tahap itu. Ikan otek pun bersedih, mencari pelampiasan. Untuk menyiasatinya, gerombolan otek pergi ke tepi muara, dimana disana mereka bisa marasa lebih berharga dan superior. Bisa melakukan hal yang sama seperti yang biasa dilakukan ikan2 lain pada mereka, mencemooh dan mengejek. Di tepi muara, gerombolan ikan tempakul sedang asik bergumul di kubangan lumpur, moment yang pas untuk dijadikan bahan hinaan ikan otek, ikan otek bisa menunjukkan arogansinya disini. Ikan otek menegur ikan tempakul “eh kul, kamu ikan apa cicak? Cicak apa kodok? Dibilang ikan tapi main di lumpur, dibilang kodok, mukamu mirip cicak”. Biasanya ikan tempakul akan marah diejek ikan otek, kemudian mengajak ikan otek duel di darat, ikan otek kabur, maklum dia ga bisa mafas di darat.

Oke, di Pulau Derawan ini kami segera mencari penginapan yang paling murah biar bisa ngirit. Akhirnya kami temukan Losmen Danakan yang harganya 150 ribu/ kamar 3 bed. Jadi kami booking 2 kamar, cukup untuk berenam. Oyah, selain losmen2 kecil, di Pulau derawan ini juga ada penginapan bagus yang dikelola pengusaha asal Balikpapan, yang biasa dihuni oleh pejabat2, pegawai2 perusahaan swasta, sampe tante2 glamour dari Jakarta. Sementara losmen2 kecil lebih banyak dihuni turis2 asing dan traveller penjelajah alam macam kami. Buatku, menginap di losmen bukan masalah, lebih merakyat, dan yang paling penting, losmen2 kecil ini dikelola penduduk lokal Pulau Derawan, yang memang lebih pantas untuk ditingkatkan kesejahteraannya.

Jadi malam itu malam yang indah, pertamakalinya aku menjejakkan kaki di pulau yang terkenal akan keindahan bawah airnya. Kami belum sempat menyambangi wilayah air, tapi keindahan daratan pulau sudah cukup menentramkan malamku. Aku duduk di koridor losmen, yang berdiri kokoh di tepi pantai. Angin sepoi2 menyentuh kulitku. Di bawah losmen, air laut jernih diterangi lampu malam. Sekelompok kepiting kecil menggali lubang di pasir, sepasang lion fish memadu asmara dekat dermaga. Bulu babi, ubur-ubur, dan juga siput kayu yang mengintip diam2 ingin menunjukkan eksistensinya. Di koridor lebih depan, lebih dekat ke laut, beberapa turis Prancis sedang asik bergurau, sementara sepasang muda mudi turis Amerika asik membaca buku di losmen seberang. Teman2ku, para penjelajah alam, tak ketinggalan berdebat mana yang lebih Hoax antara Inugh dan Adith. Aku duduk di koridor losmen, malam itu malam istimewa, salah satu perasaan paling damai tenang tentram yang pernah kurasakan dalam hidupku. Betapa indahnya hidup ini, betapa baiknya Tuhan telah menganugerahkan suasana ini, menciptakan mereka semua, pulau yang indah ini, makhluk2 alam, manusia2 penjelajah alam.

Malam itu rupanya ada kabar buruk, Jepang dilanda tsunami, dan efek tsunami masih mungkin dirasakan di bagian utara Indonesia beberapa jam kemudian. Kami sedikit khawatir karena Pulau Derawan berada di zona bahaya. Melalui siaran TV, kami diinformasikan untuk waspada. Untungnya kejadian itu hanya berlangsung sebentar, beberapa jam setelahnya ada pemberitahuan melalui siaran TV bahwa Pulau Derawan dan sekitarnya aman dari bahaya tsunami, kami lega.

Jam 3 subuh ketika hampir semua orang di Pulau Derawan sedang tidur, aku terbangun. Sambil sedikit ngantuk, aku coba ngecek fb dan BBM. Waktu kubuka BBM, aku kaget ada yang nulis status “Jepang baru saja dilanda gempa dan tsunami lagi, turut berduka dan mari kita waspada karena dampaknya bisa meluas”. Statusnya baru aja dibikin beberapa menit lalu. Aku kaget donk, soalnya setauku jam 9 malam sudah ada pemberitahuan kalo tsunami udah selese dan Pulau Derawan aman. Aku jadi agak panik, sewot sedikit kesal. Mau cross check keabsahan berita, ga ada TV yang nyala n smua orang udah tidur. Kuliat wajah2 temanku yang tertidur pulas, kesian amat kalo dalam mimpinya tiba2 mimpi tenggelam dilaut. Kubayangkan kalo tsunami menyapu pulau, dan mereka tersapu gelombang dalam keadaan tidur, tenggelam tak berdaya tak bernafas merana dan terluka.

Jadi aku keluar kamar, pikiranku parno. Aku berusaha mencari solusi kalo tiba2 ada tsunami. Otakku berfikir keras, akhirnya ide brilian dan jenius muncul. Kulihat pohon2 kelapa setinggi 10 meter menjulang diantara pemukiman warga, mantapp!! kalo ada tsunami aku akan manjat pohon kelapa sampe gelombangnya surut. Aku tersenyum2 puas dalam hati. Waktu itu aku liat si bule Prancis juga di luar kamar ga bisa tidur, duduk dekat jembatan antar losmen. Kuperhatikan dia, kuamati dengan seksama, hmmm, aku rasa aku sedikit lebih pintar, si bule daritadi cuma memperhatikan pohon jambu. Pohon jambu tingginya cuma 3 meter. ==> esok paginya aku baru tau kalo ide brilianku ga ada gunanya, yang bikin status rupanya gagap teknologi gagap informasi, bikin status padahal tsunami udah lewat!! Capee deee….

Akhirnya malam pertama di Derawan telah dilewati, paginya kami segera bergegas untuk mengunjungi Pulau Sangalaki dan Pulau Kakaban. Perjalanan ditempuh dengan speed boat yang sama dengan kemarin yang sudah kami booking untuk menemani setiap perjalan kami. Butuh waktu lebih dari sejam sebelum kami sampai di Pulau Sangalaki. Sangalaki adalah pulau dengan luas hampir 16 hektar, merupakan habitat ikan pari Manta yang terkenal. Seperti Pulau Derawan, pasir pantai di Sangalaki juga berukuran besar, sehingga air tepi pantai cukup jernih. Ada beberapa spot diving disini, tapi yang menarik perhatian kami adalah tempat konservasi penyu hijau di tengah pulau. Dengan membayar tiket masuk 2 ribu per orang, kami berkesempatan melihat lokasi konservasi penyu.

Area itu berukuran sekitar 5X5 meter dimana didalamnya terdapat wilayah2 gundukan pasir untuk menyimpan telur penyu yang berhasil diselamatkan. Hari itu kami beruntung bisa melihat puluhan ekor tukik (anak penyu) yang baru lahir berebut keluar dari gundukan pasir. Beberapa orang wisatawan Thailand tak menyiakan kesempatan dengan merekam kejadian menggunakan video recorder lensa makro super canggih. Kami bermain2 dengan tukik yang baru keluar, sambil mengabadikan gambar. Pengalaman mengesankan di Pulau Sangalaki.

Siang menjelang sore perjalanan kami lanjutkan menuju Pulau Kakaban, yang akhirnya menjadi pulau paling favorit selama aku berwisata kali ini. Pulau ini sungguh sangat unik. Dengan luas 5KM persegi, pulau ini mengelilingi sebuah danau yang terbentuk oleh atol disekelilingnya, merupakan kejadian yang berlangsung selama sekitar 2 ribu tahun pada 2 juta tahun lalu!! Energi tektonik dari dasar laut mendorong karang dan tanah ke permukaan dan membentuk dinding setinggi 50 meter yang memerangkap air laut di dalamnya, sehingga terjadilah danau air asin. Selama dua juta tahun, komposisi air laut di danau berubah, kadar garamnya berkurang. Keterbatasan lingkungan dan asupan makanan membuat fauna di danau melakukan adaptasi. Ini yang paling menakjubkan: ubur2 di danau Kakaban berenang dengan kaki di atas, hasil adaptasi lingkungan selama 2 juta tahun. Ubur2 melakukan simbiosis mutualisme dengan alga yang menempel pada kakinya. Alga adalah penghasil makanan pada ekosistem danau, dan untuk menghasilkan makanan dan bertahan hidup alga memerlukan lebih banyak sinar matahari. Dengan menempel pada kaki ubur2 yang berenang terbalik, alga bisa bertahan hidup. Menakjubkan betapa Tuhan telah memberi insting pada fauna untuk berperilaku aneh demi mempertahankan hidup. Buatku, lebih menakjubkan lagi karena berhasil mengabadikan gambar salah satu ubur2 yang berenang dengan kaki di atas.

Keajaiban Pulau Kakaban bukan cuma sampai disitu. Diantara pulau2 lain, air pantai Pulau Kakaban adalah yang paling jernih. Disini kami bisa melakukan snorkeling pada kedalaman sekitar 2-3 meter, beberapa ratus meter dari bibir pantai. Terumbu karang di Kakaban, benar adalah surga bawah laut.

Kegiatan hari itu kami akhiri dengan berangkat kembali ke Pulau Derawan. Sampai di losmen aku bertemu seorang wanita Prancis setengah baya sedang menjemur pakaian. Waktu luang kumanfaatkan sekedar menyapa wanita itu. Wanita itu dengan ramah menyapaku balik. Kami lalu bercerita. Wanita itu menggambarkan bagaimana duapuluh tahun lalu dia pertamakali datang ke Pulau Derawan dan jatuh cinta dengan pulau ini. Saat itu jumlah penyu hijau masih banyak, penduduk masih jarang. Ketertarikan pada pulau ini membuat si wanita dan suaminya memutuskan menghabiskan masa tuanya di Derawan.

Hari berikutnya kami lanjutkan perjalanan ke Pulau Maratua. Diantara pulau2 di kepulauan Derawan, Maratua memiliki paling banyak spot diving. Kami memutuskan melakukan aktivitas snorkeling di salah satu spot, Coral Garden. Lagi-lagi, pemandangan bawah laut menakjubkan.

Berakhirnya wisata di Maratua, berakhirlah perjalanan antar pulau kami. Hari besoknya kami cuma akan menghabiskan waktu menyusuri Pulau Derawan, makan di warung Sinta dan Gado2 Ma’ Putri. Dua tempat makan tadi terletak di perkampungan warga pulau derawan. Mengenai gado2 Ma’ Putri ini, konon kata teman2 masakannya sungguh lezat. Dibuat dengan racikan bumbu khusus, resep rahasia keluarga nenek moyang ma’ putri. Tapi rahasia utamanya adalah, setiap kali mengulek racikan bumbu, ma’ putri melakukannya dengan gerakan geol kiri kanan mirip instruktur senam memperagakan latihan pinggul. Tubuh ma’ putri sungguh lentur, sehingga setiap tangannya asik mengulek racikan gado2, maka geolannya pun secara otomatis muncul menyesuaikan irama gerakan tubuh. Inilah yang konon membuat masakan gado2 ma’ putri terkenal kelezatannya. Zaman berganti, waktu berubah, teknologi baru muncul. Suatu ketika saat ulekan sudah jarang digunakan digantikan blender, ma’ putri ikut menggunakan blender. Meski sudah tidak mengulek sambal, rupanya pengunjung warung ma’ putri tidak berkurang. Para wisatawan, kebanyakan pria, tetap antusias makan gado2 racikan ma’ putri. Ini rahasianya, rupanya saat menggunakan blender meracik bumbu, sambil memegang blender yang sedang meracik otomatis, tubuh ma’ putri tetap mengeluarkan geolan mautnya, seirama dengan putaran mesin blender.

Jadi begitulah, dari gado2 ma’ putri sampe warung sinta, dari Sangalaki sampai Kakaban, dari lion fish sampai ikan otek, dari manjat kelapa maratua sampai nyaris tenggelam di coral garden, kami berenam, para penjelajah alam, mengakhiri perjalanan dengan senyum puas atas pengalaman berharga.

Desir ombak terdengar lembut,

Di kayu-kayu penyangga losmen, berbaris menempel segerombolan siput,

Matahari mulai redup, warna jingga turun cahayanya lembut,

Manta liar berkeliaran mengikuti ombak yang pasang lalu surut,

Penyu hijau langka bersama para tukik bersemayam, mencari tempat sekedar bertahan hidup,

Kami berenam, para penjelajah alam, baru pulang dari surga bawah laut…

About Paguyuban Keluarga Dukhan

Komunitas Masyarakat Indonesia di Dukhan - Qatar
Gallery | This entry was posted in Seputar Qatar and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s